Saham Grup Barito Melambung, IHSG Berhasil Ditutup Menguat ke Level 5.695

Rini Widiyarti

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sukses mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Indeks ditutup naik 0,92 persen ke level 5.695.

Pergerakan positif ini didorong oleh aksi beli masif pada sejumlah saham emiten Grup Barito. Emiten tersebut menjadi motor penggerak utama pasar hari ini.

Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di posisi 5.737. Sementara itu, titik terendah indeks berada pada level 5.607.

Aktivitas pasar saham terpantau cukup ramai dengan volume perdagangan mencapai 18,68 miliar saham. Total nilai transaksi hari ini tercatat sebesar Rp10,28 triliun.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,56 juta kali transaksi. Sebanyak 378 saham menguat, 248 saham melemah, dan 157 saham stagnan.

Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 2,61 persen. Sektor barang baku menyusul dengan kenaikan 2,6 persen dan infrastruktur 1,38 persen.

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk atau BREN melonjak tajam 8,74 persen. Harga sahamnya kini berada di level Rp3.360 per lembar.

PT Barito Pacific Tbk atau BRPT juga mencatatkan kinerja impresif. Saham ini naik 7,4 persen hingga menyentuh harga Rp1.380 per saham.

Emiten lain seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN turut memberikan kontribusi positif. Pergerakan saham grup ini menjadi penopang utama IHSG.

Penguatan IHSG terjadi di tengah tantangan data ekonomi nasional. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Juni 2026 turun ke level 46,9.

Angka tersebut menunjukkan kontraksi manufaktur dibandingkan bulan Mei yang berada di level 50. Permintaan baru mengalami penurunan terdalam sejak tahun lalu.

Kondisi ekonomi domestik juga menghadapi tekanan dari kenaikan inflasi. Juni 2026 inflasi mencapai 3,34 persen akibat kenaikan harga BBM Non-Subsidi.

Neraca perdagangan Mei 2026 pun mencatatkan defisit sebesar US$1,61 miliar. Hal ini dipicu lonjakan impor 22,16 persen dan penurunan ekspor komoditas.

Penurunan ekspor didorong oleh volume komoditas ferronickel dan batubara. Kebijakan RKAB tahun ini membatasi volume ekspor komoditas unggulan tersebut secara signifikan.

Pelemahan nilai tukar rupiah turut membebani sentimen pasar. Rupiah di pasar spot ditutup turun 0,37 persen ke level Rp17.948 per dolar AS.

Secara teknikal, IHSG masih berada di bawah garis MA-5 di level 5.787. Pasar diperkirakan akan berkonsolidasi di rentang 5.600 hingga 5.800.

Dukungan tren jangka panjang diharapkan mampu menahan pergerakan indeks. Level support berada di kisaran 5.450 hingga 5.318 untuk perdagangan selanjutnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All