Langkah Inggris di babak 32 besar Piala Dunia 2026 diprediksi tidak akan berjalan mulus. Meski menyandang status sebagai salah satu tim unggulan, The Three Lions harus mewaspadai kejutan dari RD Kongo, tim kuda hitam yang menyimpan potensi bahaya besar. Pertemuan kedua negara ini menjadi sorotan tajam, terutama karena skuad asuhan Sebastien Desabre memiliki pemahaman mendalam mengenai karakter permainan sepak bola Inggris.
RD Kongo secara mengejutkan mampu melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah melewati fase grup yang cukup berat. Meski sempat menderita kekalahan dari Kolombia, keberhasilan mereka menahan imbang Portugal dan menumbangkan Uzbekistan menjadi bukti ketangguhan mental skuad berjuluk The Leopards tersebut. Status sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik tidak lantas membuat mereka bisa dipandang sebelah mata oleh Harry Kane dan kawan-kawan.
Faktor utama yang membuat RD Kongo sangat berbahaya dalam duel ini adalah komposisi pemainnya yang sangat akrab dengan iklim sepak bola Inggris. Saat ini, terdapat lima pemain inti dalam skuad RD Kongo yang berkompetisi di liga domestik Inggris. Mereka adalah Aaron Wan-Bissaka dari West Ham United, Axel Tuanzebe yang membela Burnley, Noah Sadiki dari Sunderland, Edo Kayembe di Watford, serta penyerang tajam Newcastle United, Yoane Wissa.
Kedekatan para pemain ini dengan atmosfer kompetisi paling bergengsi di dunia tersebut memberikan keuntungan taktis bagi sang pelatih. Mereka memahami pola pikir, intensitas, hingga taktik yang sering diterapkan oleh para pemain Inggris. Pengetahuan personal mengenai gaya bermain lawan di lapangan hijau tentu menjadi modal berharga bagi RD Kongo untuk meredam dominasi The Three Lions sepanjang 90 menit pertandingan.
Selain lima pemain yang saat ini aktif merumput di Inggris, RD Kongo juga diperkuat oleh deretan pemain berpengalaman lainnya yang pernah merasakan kerasnya atmosfer kompetisi di sana. Nama-nama seperti Arthur Masuaku, Chancel Mbemba, Gael Kakuta, dan Aaron Tshibola melengkapi daftar pemain yang sudah mengenal betul kultur sepak bola Inggris. Pengalaman kolektif ini menciptakan kepercayaan diri yang tinggi dalam skuad The Leopards saat harus berhadapan dengan lawan yang secara kualitas di atas kertas lebih diunggulkan.
Ketergantungan terhadap pemain-pemain berlabel liga Inggris ini terlihat jelas dari susunan pemain yang selalu diturunkan oleh Sebastien Desabre. Pada fase grup, kuartet lini belakang yang dihuni oleh Aaron Wan-Bissaka, Axel Tuanzebe, Chancel Mbemba, dan Arthur Masuaku menjadi tembok kokoh yang selalu dipercaya tampil sejak menit awal. Konsistensi mereka menjaga kedalaman pertahanan menjadi kunci sukses RD Kongo dalam mencuri poin penting selama fase penyisihan.
Di sektor penyerangan, Yoane Wissa juga telah membuktikan tajinya sebagai ujung tombak yang mematikan. Sebagai top skor sementara bagi timnya di Piala Dunia 2026, Wissa diprediksi akan menjadi ancaman konstan bagi lini belakang Inggris. Keberadaannya di depan, yang didukung oleh Cedric Bakambu, akan memberikan tantangan tersendiri bagi para bek Inggris yang mungkin sudah sering berduel dengan Wissa di kancah Liga Inggris.
Kehadiran Edo Kayembe di lini tengah juga memberikan stabilitas permainan yang krusial bagi RD Kongo. Setelah tampil impresif dalam laga kontra Portugal dan Kolombia, Kayembe diprediksi akan menjadi penyeimbang dalam transisi serangan maupun bertahan. Demikian pula dengan Noah Sadiki, yang sudah menunjukkan kontribusi positif dalam dua laga awal, memberikan opsi rotasi yang segar bagi sang pelatih untuk menjaga intensitas permainan tim.
Secara taktikal, Inggris harus sangat berhati-hati dalam melakukan pendekatan permainan. Jika Gareth Southgate atau staf pelatih Inggris meremehkan RD Kongo dengan menganggap mereka sebagai lawan yang mudah ditaklukkan, bukan tidak mungkin kejutan besar akan terjadi. The Three Lions dituntut untuk bermain lebih disiplin dan tidak terpancing oleh skema serangan balik yang mungkin dirancang oleh pemain-pemain RD Kongo yang sudah hafal gaya permainan mereka.
Pertarungan di babak 32 besar ini bukan sekadar laga antara tim unggulan melawan tim kejutan. Ini adalah pembuktian sejauh mana pengaruh pengalaman internasional dan kedekatan dengan liga papan atas dunia bisa mengubah peta kekuatan di turnamen akbar seperti Piala Dunia. RD Kongo datang dengan misi untuk membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu ditentukan oleh nama besar, melainkan oleh pemahaman taktis dan mentalitas bertanding yang tepat di lapangan.
Bagi Inggris, kemenangan menjadi harga mati untuk menjaga asa melangkah jauh di turnamen ini. Namun, mereka kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan lawan yang mengetahui rahasia dapur permainan mereka. Skuad RD Kongo, dengan segala koneksi Liga Inggris yang mereka miliki, siap memberikan perlawanan sengit dan menciptakan petaka yang bisa membuat publik sepak bola dunia tercengang.
Kini, seluruh mata akan tertuju pada jalannya pertandingan di stadion. Apakah Inggris mampu mengatasi tekanan dan membuktikan superioritasnya, atau justru RD Kongo yang akan melaju ke babak berikutnya dengan memanfaatkan pengetahuan mendalam mereka terhadap sepak bola Inggris? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan tersaji dalam duel krusial yang dipastikan akan menyedot perhatian para penggemar sepak bola di seluruh penjuru dunia.











