Demam matcha, bubuk hijau ikonik asal Jepang, terus merajai kuliner Indonesia, menghiasi aneka hidangan mulai dari martabak, klepon, cendol, hingga risol. Namun, di balik popularitasnya yang meluas, sebagian besar matcha yang dinikmati masyarakat Indonesia masih bergantung pada impor. Pertanyaannya, dengan statusnya sebagai salah satu produsen teh terbesar dunia, mampukah Indonesia bersaing dan mengukir namanya di pasar matcha global yang kini didominasi Jepang?
Awalnya dikenal sebagai alternatif minuman non-kopi yang dicampur susu di jaringan kedai kopi global sekitar tahun 2000-an, matcha sebenarnya adalah daun teh hijau yang dihaluskan. Proses penanaman dan pengolahan yang spesifik inilah yang membedakannya dari teh hijau biasa, menghasilkan cita rasa umami khas, serta kaya akan antioksidan yang bermanfaat bagi metabolisme dan kejernihan pikiran. Visualnya yang mencolok dan manfaat kesehatannya mendorong matcha merambah ke berbagai lini produk, dari minuman hingga perawatan kecantikan, dan semakin mudah ditemui bahkan di kedai pinggir jalan.
Perkembangan pasar matcha di Indonesia menunjukkan tren positif yang signifikan. Merisha Ayu, CEO kafe Uji Matcha yang telah beroperasi sejak 2017, mencatat peningkatan impor matcha yang terus naik setiap tahunnya. Ia optimistis tren ini akan terus berlanjut, didorong oleh kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat dan kualitas konsumsi. "Saya percaya kedepannya matcha ini masih tetap booming. Apalagi dengan gaya hidup masyarakat atau pasar sekarang, yang mana mereka itu lebih peduli dengan kesehatan dan juga lebih sadar dengan apa yang dikonsumsi," ujarnya. Potensi pasar di Indonesia masih sangat luas, bahkan merambah ke industri kecantikan seperti skincare dan parfum.
Proyeksi pasar matcha di Indonesia pun sangat menjanjikan. Riset pasar dari Mobility Foresight memprediksi laju pertumbuhan tahunan rata-rata hingga 14,8% hingga tahun 2031. Pertumbuhan ini didorong oleh kesadaran kesehatan, budaya kafe yang Instagrammable, dan inovasi produk yang terus bermunculan. Secara global, prediksi pertumbuhan pasar matcha berada di kisaran 7% hingga 9% hingga tahun 2033. Angka-angka ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk turut serta dalam percaturan pasar matcha dunia.
Melihat potensi pasar yang terus berkembang, para petani teh lokal di Ciwidey, Jawa Barat, mulai menangkap peluang ini. Rizal Firdaus, yang telah lama berkecimpung dalam bisnis teh berbagai jenis, mulai bereksperimen dengan matcha pada tahun 2016. "Saya melihat yang produksi matcha di Indonesia tidak ada saat itu. Mungkin ada hanya sebatas green tea powder [teh hijau bubuk], tapi matcha masih diambil dari Jepang," tuturnya. Ia terinspirasi untuk memanfaatkan kekayaan teh Indonesia untuk menciptakan matcha lokal.
Perjalanan Rizal tidaklah instan. Butuh delapan tahun riset dan pengembangan untuk menghasilkan matcha yang siap dipasarkan. Berbekal literatur dan pengetahuan dari internet, ia membimbing petani dan pemetik teh untuk menghasilkan bahan baku terbaik. Kunci utama pembuatan matcha terletak pada perlakuan khusus pada daun teh. Sekitar dua minggu sebelum panen, tanaman teh dinaungi untuk mengurangi paparan sinar matahari, meningkatkan kandungan L-theanine yang menghasilkan rasa umami dan memicu produksi klorofil untuk warna hijau cerah. Pemanenan dilakukan secara manual dengan hanya mengambil pucuk-pucuk terbaik.
Daun teh yang telah dipanen kemudian diolah menjadi tencha, bahan baku matcha, sebelum digiling menggunakan mesin batu yang menyerupai penggiling tradisional Jepang. Meskipun batunya berasal dari Majalengka, proses penggilingan dan pengayakan menghasilkan bubuk matcha yang halus. Saat ini, matcha produksi Rizal berada dalam kategori culinary grade, yang dirancang untuk dicampur dengan bahan lain seperti susu dan gula. Ia mengakui, tekstur dan rasanya masih lebih kasar, sepat, dan pahit dibandingkan matcha Jepang di kategori yang sama. Namun, ketika dicampur susu, rasa sepat dan pahitnya berkurang.
Meskipun demikian, "Indo matcha" buatannya telah menemukan pasarnya sendiri. Produk dari pabriknya di Ciwidey telah dipasarkan ke kafe-kafe lokal di Bandung dan dijual sebagai produk white label. Kapasitas produksi Rizal kini mencapai 300 kilogram pucuk teh per hari, jauh meningkat dari 20 kilogram di awal percobaannya. "Dengan melihat tren permintaan, Indo matcha yang saya produksi kelihatannya akan terus berkembang. Terutama karena pasokan matcha Jepang yang terbatas saat ini dan kenaikan harganya yang luar biasa, jadi mungkin ada beberapa yang beralih ke Indo matcha," jelasnya optimistis.
Rizal bukan satu-satunya pemain matcha lokal. Ifah Syarifah dari Arafa Tea di Jawa Barat juga telah bertahun-tahun memproduksi matcha lokal dengan menggandeng petani teh khusus. Dalam sebulan, Ifah bisa mendapatkan pesanan hingga 500 kilogram matcha, baik dengan merek Arafa Tea maupun white label. Ia percaya bahwa dengan edukasi yang tepat, matcha lokal dapat diterima pasar lebih luas. "Beda lho, teh impor dengan teh kita. Yang impor sudah lama di gudang. Teh kita masih segar karena langsung dari kebun. Kita tahu ini ditanam oleh siapa, petani siapa. Itu jadi nilai untuk memberdayakan petaninya," ungkap Ifah. Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu mengonsumsi matcha Indonesia.
Secara teknis, para peneliti menegaskan bahwa teh di Indonesia sangat bisa diolah menjadi matcha. Namun, perbedaan iklim dan jenis tanaman teh menjadi faktor yang memengaruhi hasil akhir. Tanaman teh di Jepang umumnya varietas sinensis yang menghasilkan rasa lebih lembut, sementara Indonesia lebih banyak varietas assamica yang cenderung memiliki rasa sepat kuat dan biasa menjadi bahan baku teh hitam. Kondisi musim dingin di Jepang juga berperan dalam meningkatkan nutrisi dan asam amino pada tanaman teh, menciptakan cita rasa yang berbeda.
Kralawi Sita, peneliti sosial ekonomi Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, menjelaskan, "Kalau sinensis rasanya memang lebih lembut, lebih ringan. Jadi kalau misalnya basisnya assamica memang harus ada sistem pengolahan tertentu, penyempurnaan tertentu untuk menghasilkan [rasa sejenis] itu." Ia menambahkan bahwa pasar matcha di Indonesia kini tidak hanya diisi Jepang, tetapi juga China dan Taiwan, menunjukkan adanya diversifikasi produk yang sudah mulai berjalan.
Meski demikian, peluang matcha lokal untuk bersaing tetap terbuka lebar. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2022 membuktikan bahwa varietas assamica klon Gambung berpotensi menjadi matcha dengan proses penaungan (shading) yang tepat untuk menghasilkan warna hijau lebih baik dan mengurangi rasa sepat. Hasil uji sensorik menunjukkan matcha lokal yang diteliti masih mendapat skor lebih rendah dibandingkan matcha impor karena rasa sepatnya yang dominan.
Namun, Supriyadi, salah satu peneliti UGM, berpendapat bahwa karakter rasa sepat ini justru bisa menyasar segmen pasar yang berbeda. "Kita harus mencoba mencari klon yang paling pas. Kalau masalah teknologi, tidak susah karena buktinya yang dulu green tea (teh hijau) dari assamica juga laku," ujarnya. Ia menekankan pentingnya promosi dan edukasi konsumen mengenai potensi matcha Indonesia sebagai antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan matcha impor, meskipun rasa umaminya belum begitu menonjol.
Saat ini, matcha lokal memang belum sepenuhnya menandingi cita rasa dan tekstur matcha Jepang yang telah mapan. Namun, tren permintaan yang terus meningkat, ditambah dengan isu keterbatasan pasokan matcha dari Jepang sejak beberapa waktu lalu, membuka jalan bagi produsen dalam negeri untuk terus berinovasi. Eksperimen tanpa henti untuk menemukan karakter matcha khas Indonesia bukan hanya tentang bersaing, tetapi juga tentang membangkitkan kembali kejayaan komoditas teh nasional yang sempat tersingkir dari peta produsen teh dunia.











