Bahaya Fatal Memijat Tulang Anak yang Patah, Dokter Peringatkan Mitos Berbahaya Ini

Emanuel

Mitos tentang memijat tulang anak yang patah agar cepat sembuh masih beredar luas di masyarakat. Padahal, tindakan ini berpotensi memperparah cedera, menimbulkan komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa. Spesialis Ortopedi Traumatologi, dr. Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, menegaskan bahwa manipulasi pada tulang yang patah tanpa diagnosis medis yang tepat sangat berbahaya.

Menurut dr. Gabriel, patah tulang bukan hanya melibatkan kerusakan pada tulang itu sendiri, tetapi juga jaringan lunak di sekitarnya, termasuk pembuluh darah dan saraf. Tekanan atau pijatan yang diberikan pada area yang cedera dapat menyebabkan pergeseran fragmen tulang yang lebih parah. Hal ini berisiko merusak lebih lanjut struktur vital di dekatnya, yang dapat berujung pada komplikasi yang lebih serius.

"Memijat tulang yang patah bukanlah tindakan yang dianjurkan. Justru hal itu bisa memperburuk kondisi cedera, meningkatkan nyeri, bahkan menimbulkan komplikasi yang lebih serius," ungkap dr. Gabriel saat acara Media Meet Up Eka Hospital Cibubur di Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026). Ia menekankan bahwa anak-anak memang memiliki kemampuan regenerasi tulang yang lebih baik dibandingkan orang dewasa, namun proses penyembuhan tetap harus diawali dengan diagnosis yang akurat.

Proses diagnosis yang tepat meliputi pemeriksaan fisik oleh dokter dan, jika diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen. Dengan mengetahui secara pasti tingkat keparahan dan jenis patah tulang, dokter dapat menentukan penanganan yang paling sesuai. Penanganan yang keliru, termasuk upaya memijat sendiri, dapat menyebabkan berbagai masalah jangka panjang.

Risiko komplikasi akibat penanganan patah tulang yang tidak tepat sangat beragam. Salah satunya adalah malunion, yaitu kondisi di mana tulang menyambung kembali namun dalam posisi yang salah. Ini dapat menyebabkan deformitas permanen dan mengganggu fungsi normal anggota gerak. Selain itu, ada pula nonunion, di mana tulang gagal menyatu sama sekali, membutuhkan intervensi medis lebih lanjut.

Lebih lanjut, dr. Gabriel menjelaskan bahwa gangguan pertumbuhan tulang juga bisa terjadi, terutama jika cedera mengenai area lempeng pertumbuhan pada anak. Penurunan fungsi anggota gerak secara permanen menjadi ancaman serius jika patah tulang tidak ditangani dengan baik. Manipulasi yang tidak tepat juga dapat memicu perdarahan internal yang lebih luas, pembengkakan yang semakin parah, serta meningkatkan risiko cedera saraf dan pembuluh darah.

Orang tua perlu waspada terhadap tanda-tanda patah tulang pada anak. Gejala umum yang perlu diwaspadai meliputi nyeri hebat pada area yang cedera, pembengkakan yang signifikan, perubahan bentuk yang jelas pada anggota tubuh, kesulitan atau ketidakmampuan untuk menggerakkan bagian yang terluka, serta anak yang tidak dapat menopang berat badan jika cedera terjadi pada kaki atau tungkai.

Jika anak mengalami cedera yang dicurigai sebagai patah tulang, langkah pertama yang paling krusial adalah segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Sebelum mencapai tempat pelayanan medis, orang tua dapat melakukan pertolongan pertama dengan meminimalkan gerakan pada area yang cedera. Imobilisasi sementara menggunakan bidai sederhana atau penyangga dapat membantu mencegah pergeseran lebih lanjut.

Mengompres dingin area yang bengkak juga dapat membantu mengurangi peradangan dan rasa nyeri. Namun, penting untuk diingat bahwa kompres dingin tidak boleh langsung ditempelkan pada kulit, melainkan dibungkus dengan kain terlebih dahulu untuk menghindari luka bakar dingin. Tindakan ini hanya bersifat sementara sebelum mendapatkan penanganan medis profesional.

"Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting agar tulang dapat sembuh dengan baik serta meminimalkan risiko gangguan pertumbuhan maupun kecacatan di kemudian hari," tegas dr. Gabriel. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh mitos yang beredar, seperti keyakinan bahwa pijatan dapat "meluruskan" tulang yang patah.

Proses penanganan patah tulang pada anak sepenuhnya bergantung pada evaluasi medis. Dokter akan menentukan apakah kondisi tersebut cukup ditangani dengan pemasangan gips, memerlukan tindakan reposisi tulang (mengembalikan posisi tulang ke tempat semula), atau bahkan tindakan operasi jika diperlukan. Penilaian ini didasarkan pada jenis patah tulang, usia anak, dan tingkat keparahan cedera.

Mitos pijat patah tulang seringkali berakar dari praktik pengobatan tradisional yang tidak didukung oleh ilmu medis modern. Padahal, dalam dunia kedokteran ortopedi, manipulasi tulang yang patah tanpa pengetahuan dan alat yang tepat sangat berisiko. Kepercayaan pada praktik yang tidak terbukti secara ilmiah dapat menunda penanganan medis yang sebenarnya dibutuhkan, sehingga memperburuk prognosis pasien.

Penting untuk dipahami bahwa tulang anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan tulang orang dewasa. Meskipun memiliki kemampuan regenerasi yang superior, kerapuhan atau ketidaksempurnaan penanganan dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, setiap cedera tulang pada anak harus ditangani dengan serius dan profesional.

Dengan intervensi medis yang tepat sejak awal, mayoritas kasus patah tulang pada anak memiliki prognosis yang sangat baik. Anak-anak umumnya dapat kembali beraktivitas normal setelah melalui masa pemulihan yang sesuai dengan anjuran dokter. Edukasi masyarakat mengenai bahaya mitos pengobatan tradisional yang tidak terbukti dan pentingnya konsultasi medis profesional menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.

Oleh karena itu, sebagai langkah pencegahan dan penanganan yang benar, orang tua disarankan untuk selalu mengutamakan pemeriksaan medis profesional apabila anak mengalami cedera yang dicurigai patah tulang. Kepercayaan pada pengetahuan medis yang teruji adalah investasi terbaik untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak di masa depan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All