Kementerian Pertahanan (Kemhan) secara resmi mengumumkan perubahan signifikan pada program pelatihan rekrutmen calon manajer Koperasi Desa Merah Putih, menyusul serangkaian insiden tragis yang menelan lima korban jiwa. Nomenklatur kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai Latihan Dasar Militer (Latsarmil) kini berganti nama menjadi Latihan Bela Negara dan Manajerial, sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh setelah kematian para peserta. Perubahan ini ditegaskan oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, dalam keterangannya pada Senin, 29 Juni 2026.
Brigjen Rico menjelaskan bahwa penggantian nama ini bertujuan untuk memperjelas orientasi utama pelatihan. Menurutnya, kegiatan yang intensitas fisiknya sempat menjadi sorotan publik ini sebetulnya difokuskan pada pembentukan karakter yang kuat, peningkatan disiplin, pengembangan jiwa kepemimpinan, kemampuan kerja sama tim, rasa tanggung jawab, serta kesiapan manajerial para calon pengelola koperasi. Penegasan ini sekaligus menepis anggapan bahwa pelatihan tersebut berorientasi pada pembentukan kemampuan militer.
Lebih lanjut, Kemhan juga memutuskan untuk mengurangi secara drastis intensitas kegiatan fisik dan taktis yang bernuansa militer. Sisa waktu pelaksanaan pelatihan dasar kini akan lebih dibatasi pada pembiasaan disiplin dan kebugaran dasar. Aktivitas seperti senam atau olahraga pagi, apel, baris-berbaris, pengenalan lingkungan, dan kegiatan lapangan ringan akan menjadi porsi utama, memastikan peserta tetap aktif tanpa beban berlebihan yang berisiko bagi kesehatan mereka.
Dalam upaya mitigasi risiko kesehatan, Kemhan telah menerapkan sistem pemetaan kemampuan fisik bagi seluruh calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Peserta yang teridentifikasi memiliki kondisi medis tertentu atau faktor risiko kesehatan kini akan diberi penandaan khusus berupa pita putih. Penandaan ini memastikan bahwa mereka tidak akan dibebani dengan kegiatan fisik yang melampaui batas kemampuan atau berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Brigjen Rico menegaskan bahwa peserta dengan pita putih akan menjalankan kegiatan fisik berdasarkan rekomendasi ketat dari tenaga kesehatan yang bertugas. Selain itu, pendekatan dalam penegakan disiplin juga mengalami perubahan fundamental. Kementerian Pertahanan berkomitmen untuk mengurangi tindakan fisik berlebihan sebagai bentuk hukuman bagi pelanggar aturan. Penekanan akan dialihkan pada pembinaan edukatif yang terukur, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab, bukan sekadar sanksi fisik.
Gelombang pertama pelatihan yang berlangsung dari 17 Juni hingga 31 Juli 2026 ini melibatkan total 35.476 peserta. Mereka terdiri atas 30.000 calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Program berskala besar ini memang dirancang untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengelola unit usaha desa, namun tragedi yang terjadi telah memaksa evaluasi mendalam terhadap metode pelaksanaannya.
Duka mendalam menyelimuti program ini setelah lima peserta meninggal dunia dalam kurun waktu sepuluh hari pertama pelaksanaan pelatihan. Mereka adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Setiap kasus membawa cerita dan penyebab yang berbeda, menyoroti pentingnya skrining kesehatan yang ketat dan pengawasan medis yang memadai.
Nola Dya Sari, yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan, meninggal dunia pada 26 Juni 2026 setelah mengeluhkan sesak napas dan demam. Pada hari yang sama, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, seorang peserta di Satuan Pendidikan Batalyon Para Komando (Yonko) 465 Jakarta Timur, juga berpulang setelah mengalami keluhan serupa. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas, menambah daftar peserta dengan kondisi kesehatan yang perlu perhatian khusus.
Tragedi juga menimpa Novia Rahmadhani Sihotang, peserta di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta. Novia meninggal pada 23 Juni 2026 akibat tuberkulosis aktif, sebuah kondisi yang mungkin tidak terdeteksi sebelum pelatihan. Sementara itu, Anisa Muyassaroh meninggal sehari setelah pelatihan dimulai, tepatnya pada 18 Juni 2026, karena serangan heat stroke saat mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Kasus Anisa menyoroti bahaya suhu ekstrem dan kurangnya adaptasi tubuh.
Korban pertama dalam rangkaian peristiwa tragis ini adalah Yonanda Muhammad Taufiq, yang meninggal pada hari pertama pelatihan, 17 Juni 2026, akibat cardiac arrest atau henti jantung mendadak. Kematian Yonanda di awal pelatihan menjadi peringatan keras tentang potensi risiko kesehatan yang inheren dalam kegiatan fisik intensif, terutama jika kondisi peserta tidak sepenuhnya prima. Rangkaian kematian ini memicu desakan publik agar pemerintah meninjau ulang standar keselamatan dan prosedur medis dalam setiap pelatihan berskala besar.
Evaluasi dan perubahan yang dilakukan Kemhan menunjukkan komitmen terhadap peningkatan keselamatan peserta dan penyesuaian program agar lebih relevan dengan tujuan aslinya, yakni mencetak manajer koperasi yang handal dan berkarakter kuat tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan dan kesehatan. Diharapkan dengan nomenklatur baru dan pendekatan yang lebih humanis, Latihan Bela Negara dan Manajerial dapat berjalan efektif dan aman, menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tanpa harus mengorbankan nyawa.











