Krisis Sepak Bola Korea: Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Mundur, Presiden Tuntut Investigasi

Danu Ilham

Gelombang kekecewaan melanda jagat sepak bola Korea Selatan menyusul kegagalan tim nasional putra melaju ke fase gugur Piala Dunia 2026. Situasi ini memicu serangkaian peristiwa dramatis, dimulai dari pengunduran diri pelatih kepala, Hong Myung-bo, hingga desakan Presiden Lee Jae Myung untuk menggelar penyelidikan mendalam atas apa yang disebutnya sebagai "kegagalan organisasi dan personel" dalam tubuh asosiasi sepak bola. Tersingkirnya Taeguk Warriors secara mengejutkan ini telah membuka kotak Pandora kritik dan tuntutan akuntabilitas dari publik dan petinggi negara.

Harapan Korea Selatan untuk melangkah lebih jauh di turnamen paling bergengsi sejagat itu kandas pada Sabtu, 27 Juni 2026, setelah hasil pertandingan tim-tim lain membuat mereka tak lagi memiliki peluang, bahkan sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik di babak grup. Kekalahan tipis 0-1 dari Afrika Selatan pada Kamis, 25 Juni, di Stadion Monterrey, Meksiko, menjadi pukulan telak yang mengunci posisi mereka di peringkat ketiga Grup A. Tim yang diunggulkan, menempati peringkat ke-32 dalam ranking FIFA dan diperkuat oleh bintang Tottenham Hotspur, Son Heung-min, hanya mampu mencatatkan satu kemenangan dan dua kekalahan di fase grup, tertinggal dari Meksiko (peringkat 15 FIFA) dan Afrika Selatan (peringkat 60 FIFA).

Respons publik tak butuh waktu lama untuk memanas. Tekanan berat langsung mengarah kepada Hong Myung-bo, yang telah memimpin tim selama dua tahun terakhir. Sehari setelah harapan pupus, pada Minggu, 28 Juni, Hong menyampaikan permohonan maaf kepada para penggemar, dengan tegas menyatakan bahwa "tanggung jawab sepenuhnya berada pada saya sebagai pelatih kepala." Namun, permintaan maaf itu tidak meredakan amarah. Pada Senin, 29 Juni, asosiasi pendukung tim nasional Korea Selatan bahkan mengeluarkan pernyataan keras, menyerukan agar Hong "berlutut di hadapan seluruh bangsa dan meninggalkan dunia sepak bola untuk selamanya."

Tak lama setelah desakan tersebut, Hong Myung-bo akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Meksiko, ia mengakui, "Kami tidak memberikan hasil yang diharapkan para penggemar." Meski demikian, Hong menegaskan komitmennya terhadap masa depan sepak bola Korea. "Meski saya meninggalkan tim nasional, saya tidak sepenuhnya meninggalkan sepak bola Korea," ujarnya. "Saya akan mendukung tim nasional dari lubuk hati terdalam dan berharap tim ini kembali dipercaya dan dicintai oleh masyarakat." Pengunduran diri ini menandai berakhirnya masa jabatan kedua Hong yang penuh kontroversi.

Di tengah gelombang kritik dari masyarakat dan pengunduran diri pelatih, Presiden Lee Jae Myung turut angkat bicara. Melalui unggahan di platform X, Presiden Lee menyatakan bahwa ia merasa "bukan hanya bingung tetapi benar-benar tercengang atas hasil yang tak terduga." Ia tidak hanya menyalahkan performa di lapangan, melainkan menyoroti masalah yang lebih fundamental. Menurutnya, tersingkirnya timnas lebih awal "tampaknya merupakan kegagalan organisasi dan personel." Presiden Lee menambahkan kritik tajam, "Ketika favoritisme dan kronisme lebih diutamakan daripada kompetensi dalam memilih seorang pemimpin, hasilnya dapat diprediksi seperti api yang membakar kertas." Pernyataan ini secara implisit menuntut investigasi terhadap proses pengambilan keputusan di Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA).

Kontroversi seputar penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih kepala memang sudah mencuat sejak awal 2024. Meskipun ia adalah pahlawan nasional yang memimpin tim Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002 sebagai pemain, rekam jejaknya sebagai pelatih timnas pada Piala Dunia 2014 kurang memuaskan, di mana tim gagal lolos dari fase grup tanpa meraih satu pun kemenangan. Penunjukan kembali Hong pada 2024 memicu kecaman luas dari penggemar sepak bola. Banyak yang menuding adanya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di dalam KFA, dengan dugaan bahwa petinggi asosiasi mengabaikan beberapa kandidat asing yang telah melalui proses seleksi ketat demi menunjuk "orang dalam."

Menanggapi tudingan tersebut, Hong Myung-bo pada Minggu, 28 Juni, sempat mengungkapkan bahwa "menerima pekerjaan ini bukanlah pilihan yang mudah." Ia mempertahankan keputusannya dengan mengatakan, "Saya tidak bisa mengatakan setiap keputusan yang diambil sudah benar, tetapi saya bisa mengatakan bahwa saya membuat setiap keputusan dengan mempertimbangkan sepak bola Korea." Situasi tegang ini bahkan berdampak pada keamanan pribadi Hong. Kepolisian Korea Selatan dilaporkan memantau ancaman keamanan di Bandara Internasional Incheon dan lokasi lainnya setelah adanya ancaman pembunuhan yang dilontarkan secara daring terhadap Hong menjelang kepulangannya ke Korea pada akhir pekan lalu, mencerminkan intensitas emosi publik.

Kini, dengan pengunduran diri Hong Myung-bo dan seruan Presiden Lee Jae Myung untuk penyelidikan, sepak bola Korea Selatan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Krisis ini bukan hanya tentang hasil di lapangan, tetapi juga tentang kepercayaan publik terhadap manajemen dan integritas asosiasi sepak bola. Proses pencarian pelatih baru akan menjadi tantangan besar, diiringi harapan untuk reformasi struktural yang menyeluruh agar kegagalan serupa tidak terulang di masa mendatang, sekaligus mengembalikan kehormatan dan kebanggaan Taeguk Warriors di kancah internasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All