Jakarta, 29 Juni 2026 – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengumumkan perluasan signifikan daftar universitas tujuan luar negeri untuk program beasiswanya, efektif mulai tahap kedua seleksi tahun 2026. Penyesuaian ini membawa total universitas unggulan yang dapat dipilih penerima beasiswa menjadi 31 institusi terkemuka di dunia, meningkat drastis dari 17 universitas yang ditetapkan sebelumnya. Langkah strategis ini mencerminkan komitmen LPDP dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang relevan dengan kebutuhan global, khususnya di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, menjelaskan bahwa dari 31 universitas tersebut, 17 di antaranya terbuka untuk seluruh program studi, sementara 14 universitas tambahan dikhususkan bagi program studi STEM. "Penambahan ini disesuaikan dengan fokus kami untuk mencetak lulusan di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics," kata Dwi Larso di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (29/6/2026). Ia menegaskan bahwa LPDP saat ini memprioritaskan 80 persen alokasi beasiswa untuk bidang STEM, sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat fondasi inovasi dan daya saing bangsa.
Penyesuaian daftar perguruan tinggi ini juga didasarkan pada perubahan pemeringkatan universitas dunia, seperti yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat internasional terkemuka, QS World University Rankings. LPDP secara berkala memantau dan memperbarui daftar ini untuk memastikan bahwa penerima beasiswa mendapatkan akses ke institusi pendidikan terbaik yang menawarkan kualitas dan reputasi global. Ini adalah upaya berkelanjutan untuk menjaga relevansi program beasiswa dengan dinamika pendidikan tinggi internasional.
Selain perluasan daftar universitas, LPDP juga melakukan perubahan signifikan pada persyaratan kemampuan Bahasa Inggris bagi pendaftar afirmasi yang bertujuan studi di luar negeri pada seleksi tahap kedua 2026. Dalam kebijakan baru ini, pendaftar afirmasi kini diminta untuk menyerahkan sertifikat kemampuan Bahasa Inggris dengan skor minimal 500. Namun, sertifikat ini dapat diterbitkan oleh Perguruan Tinggi Dalam Negeri yang telah ditunjuk, menghilangkan keharusan melampirkan sertifikat TOEFL, PTE, IELTS, atau Duolingo yang seringkali menjadi kendala bagi sebagian calon pendaftar.
Dwi Larso menambahkan bahwa ada 35 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki kewenangan untuk menerbitkan sertifikat kemampuan Bahasa Inggris sesuai standar LPDP tersebut. Kebijakan ini diharapkan dapat mempermudah akses bagi putra-putri terbaik bangsa dari berbagai daerah yang memiliki potensi akademik tinggi namun terkendala dalam memenuhi persyaratan Bahasa Inggris standar internasional. Inisiatif ini juga menunjukkan kepercayaan LPDP terhadap kapasitas institusi pendidikan tinggi di dalam negeri.
Pengecualian lain juga diberikan bagi calon pendaftar yang sudah memiliki Letter of Acceptance (LoA) Unconditional dari perguruan tinggi tujuan LPDP yang sesuai dengan program studi yang diminati. Bagi mereka, kewajiban melampirkan sertifikat kemampuan Bahasa Inggris ditiadakan. Hal ini tentu akan mempercepat proses aplikasi bagi kandidat yang sudah berhasil mendapatkan penerimaan dari universitas impian mereka.
Meskipun demikian, kedua persyaratan yang dipermudah ini—baik sertifikat Bahasa Inggris dari PT Dalam Negeri maupun pengecualian LoA Unconditional—tidak berlaku untuk beberapa jenis beasiswa. Program-program tersebut meliputi Beasiswa Dokter Spesialis/Subspesialis, Beasiswa Kerjasama Khusus, Beasiswa Kemitraan, serta Beasiswa Kerjasama Kementerian/Lembaga. Kategori beasiswa ini memiliki regulasi dan persyaratan khusus yang disesuaikan dengan karakteristik dan tujuan masing-masing program.
Daftar 17 universitas unggulan yang terbuka untuk semua program studi mencakup institusi-institusi prestisius di Amerika Serikat seperti Harvard University, Stanford University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), California Institute of Technology (Caltech), University of California, Berkeley (UCB), Princeton University, Cornell University, Johns Hopkins University, dan Babson College. Di Asia, Tsinghua University dari R.R. Tiongkok dan The University of Tokyo dari Jepang juga masuk dalam daftar ini. Sementara itu, universitas Eropa yang termasuk adalah Université PSL dari Prancis, Technical University of Munich (TUM) dari Jerman, serta University of Cambridge, University of Oxford, Imperial College London, dan London School of Economics (LSE) dari Inggris.
Penambahan 14 universitas unggulan yang secara spesifik menargetkan program studi STEM semakin memperkaya pilihan bagi talenta-talenta muda Indonesia. Di Amerika Utara, penambahan mencakup University of Toronto di Kanada, serta Yale University, University of Chicago, University of Pennsylvania, Columbia University, University of California, Los Angeles (UCLA), dan University of Michigan, Ann Arbor di Amerika Serikat. Dari Asia, Peking University (R.R. Tiongkok), The University of Hong Kong (Hong Kong SAR), National University of Singapore (NUS), dan Nanyang Technological University (NTU) dari Singapura turut memperkuat daftar. Sementara di Eropa, Paris-Saclay University dari Prancis, ETH Zurich, dan Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) dari Swiss kini menjadi tujuan baru bagi studi STEM.
Perluasan daftar universitas dan pelonggaran syarat Bahasa Inggris bagi pendaftar afirmasi ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak anak bangsa untuk meraih pendidikan tinggi berkualitas di institusi terbaik dunia. Kebijakan ini tidak hanya membuka akses, tetapi juga menunjukkan adaptabilitas LPDP dalam merespons kebutuhan global akan talenta STEM yang inovatif dan berdaya saing tinggi, sekaligus memastikan pemerataan kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, investasi pada sumber daya manusia melalui beasiswa pendidikan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dan kemandirian bangsa di masa depan.











