Mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden melancarkan kritik tajam terhadap Presiden Donald Trump, menyebutnya sebagai "pecundang" dan menuduhnya melakukan "korupsi yang terang-terangan dan mencolok" dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pernyataan ini disampaikan Biden dalam sebuah pidato di acara gala Partai Demokrat di Hanover, Maryland, pada Sabtu (27/6).
Dalam pidatonya, Biden mengungkit sejumlah kebijakan dan tindakan yang diambil selama masa kepemimpinan Trump. Salah satu poin yang disorot adalah renovasi Gedung Putih yang melibatkan pembangunan ballroom dan perubahan nama John F. Kennedy Center for the Performing Arts yang ditambahi nama Trump. Ia juga menyinggung pemberian kompensasi kepada individu yang dihukum atas tuduhan kekerasan terkait insiden di Capitol Hill pada Januari 2021. "Sungguh pecundang!" tegas Biden, mengutip laporan The Guardian.
Lebih lanjut, Biden membeberkan dugaan penyalahgunaan dana publik terkait renovasi Reflecting Pool di Lincoln Memorial. Proyek yang menelan biaya US$14,7 juta ini dilaporkan tidak melalui sistem kontrak yang semestinya, melainkan diduga diberikan kepada para pendukung Trump. Awalnya, anggaran perbaikan kolam ini diperkirakan hanya US$1,4 juta, namun membengkak drastis hingga sepuluh kali lipat. Biden menilai tindakan ini bukan sekadar cerminan narsisisme dan inkompetensi, melainkan bentuk korupsi yang merajalela.
"Ini mencerminkan sesuatu yang bahkan lebih buruk daripada narsisisme dan inkompetensi yang menjadi inti pemerintahan ini," ujar Biden. "Ini soal korupsi – korupsi, korupsi yang terang-terangan dan mencolok. Korupsi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika di pemerintahan mana pun."
Biden juga menyentil hubungan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, terutama pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Ia menuduh Trump secara sengaja mendistorsi dan merusak aliansi militer NATO, sebuah pilar keamanan transatlantik. Menurut Biden, tindakan Trump telah merusak posisi Amerika Serikat di kancah internasional lebih parah dibandingkan presiden mana pun dalam sejarah.
Ketegangan antara Biden dan Trump memang telah lama terjadi. Keduanya kerap saling melontarkan kritik terkait kebijakan masing-masing saat menjabat maupun setelah tidak lagi memegang kekuasaan. Trump sendiri juga tidak jarang melancarkan serangan verbal terhadap anggota Partai Demokrat, termasuk Biden.
Pidato Biden ini menjadi salah satu momen penting dalam dinamika politik Amerika Serikat menjelang pemilihan umum mendatang, di mana kedua tokoh ini diprediksi kembali akan bersaing ketat. Pernyataan keras Biden ini dinilai sebagai upaya untuk menggalang dukungan pemilih Demokrat dan memperkuat narasi tentang kelemahan dan potensi bahaya dari kepemimpinan Trump.
Kritik terhadap gaya kepemimpinan Trump seringkali berpusat pada dugaan praktik korupsi, penggunaan kekuasaan yang berlebihan, dan dampak negatif terhadap institusi demokrasi serta hubungan internasional Amerika Serikat. Kasus-kasus seperti penanganan dana publik, lobi-lobi yang tidak transparan, dan potensi konflik kepentingan kerap menjadi sorotan para pengamat politik dan publik.
Renovasi proyek-proyek publik di bawah pemerintahan Trump memang kerap diwarnai kontroversi. Tidak hanya soal pembengkakan anggaran, tetapi juga transparansi dalam proses tender dan penunjukan kontraktor. Isu-isu seperti ini seringkali menjadi amunisi bagi lawan politik untuk menyerang kredibilitas dan integritas pemerintahan yang berkuasa.
Dalam konteks global, peran Amerika Serikat di bawah Trump memang mengalami perubahan signifikan. Penarikan diri dari beberapa perjanjian internasional, kritik terhadap aliansi tradisional, dan pendekatan yang lebih transaksional dalam diplomasi menimbulkan kekhawatiran di kalangan sekutu AS. Biden, sebagai presiden yang mengusung kembali nilai-nilai multilateralisme, berupaya memulihkan citra dan pengaruh Amerika Serikat di dunia.
Menjelang kontestasi politik yang semakin memanas, pertukaran retorika antara kandidat seperti Biden dan Trump menjadi tontonan politik yang menarik perhatian publik. Setiap pernyataan, setiap tuduhan, dan setiap pembelaan memiliki bobotnya sendiri dalam membentuk persepsi pemilih. Pernyataan Biden yang menyebut Trump sebagai "pecundang" dan "korup" ini kemungkinan besar akan terus bergulir dan menjadi bagian dari narasi kampanye di masa mendatang.
Dampak dari kritik pedas ini terhadap elektabilitas kedua tokoh politik tersebut masih harus dilihat dalam survei-survei mendatang. Namun, yang jelas, pernyataan ini semakin mempertegas polarisasi politik di Amerika Serikat dan menyoroti perbedaan mendasar antara visi kedua calon presiden tersebut. Analis politik memprediksi bahwa isu-isu seperti korupsi, integritas, dan kepemimpinan akan menjadi isu sentral dalam perdebatan politik AS ke depan.
Biden sendiri, sebagai presiden petahana, memiliki agenda untuk melanjutkan kebijakan-kebijakannya yang dinilai lebih stabil dan berorientasi pada pemulihan hubungan internasional serta penguatan demokrasi. Sementara itu, Trump terus membangun narasi sebagai calon yang mampu membawa perubahan radikal dan mengembalikan kejayaan Amerika Serikat. Pertarungan ideologis dan personal antara kedua tokoh ini diprediksi akan semakin intens seiring mendekatnya periode pemilihan.











