Marc Marquez berhasil melewati seri balap MotoGP Belanda di Sirkuit TT Assen dengan perasaan lega. Meski tak mencapai target finis kelima, pebalap pabrikan Ducati ini menyatakan kebahagiaannya karena bisa "lolos dari Belanda tanpa cedera," sebuah prioritas utama mengingat kondisi fisiknya. Hasil balapan yang tidak terlalu menonjol secara individu, justru menempatkannya tetap dalam persaingan ketat perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026.
Pebalap berjuluk ‘The Baby Alien’ itu memang datang ke Assen dengan ekspektasi yang realistis, bahkan menyebut akhir pekan ini sebagai misi "bertahan hidup." Sirkuit Assen yang dikenal dengan karakter cepat dan banyak tikungan kanan, dinilai kurang cocok dengan kondisi fisik Marquez saat ini, terutama pasca-cedera lengan yang berkepanjangan. Fokus utamanya adalah menghindari insiden dan mengumpulkan poin semaksimal mungkin.
Dalam sesi balap Sprint Race, Marquez menyelesaikan lomba di posisi ketujuh. Sementara pada balapan utama Grand Prix, ia sempat finis di urutan keenam. Namun, hasil tersebut harus direvisi setelah ia dikenai penalti karena melebihi batas lintasan pada lap terakhir, yang akhirnya membuatnya turun satu posisi menjadi ketujuh. Meski demikian, perolehan poin ini tetap krusial dalam peta persaingan kejuaraan.
Marquez mengakui bahwa target maksimal yang bisa ia raih pada balapan hari Minggu adalah posisi kelima. "Saya turun ke balapan dan tahu bahwa tempat saya adalah finis keenam, ketujuh, kedelapan," ujar Marquez seusai balapan. "Memang benar, melihat jalannya balapan, maksimalnya adalah posisi kelima, tapi pada akhirnya kami finis ketujuh. Hal baiknya adalah kami lolos dari Belanda tanpa cedera, jadi ini adalah target utama saya." Pernyataan ini menunjukkan betapa krusialnya aspek keselamatan baginya di fase karier saat ini.
Salah satu keputusan taktis Marquez yang menarik perhatian adalah penggunaan ban belakang lunak (soft) pada balapan utama. Ia menjelaskan bahwa pilihan ini didasari oleh keterbatasan fisik yang membuatnya tidak mampu menjaga performa ban medium secara optimal sepanjang balapan. "Karena saya tidak memiliki kondisi fisik untuk mengeluarkan potensi maksimal ban dalam banyak lap," jelas Marquez saat ditanya mengenai pilihannya. Ia menambahkan, "Jadi saya berkata, ‘Saya akan mengendarai motor secara perlahan dan hanya akan mendorong di lap-lap tertentu’. Dan untuk mendorong di lap-lap tertentu, ban belakang lunak lebih baik." Strategi ini menggarisbawahi adaptasi dan pengalaman Marquez dalam menghadapi tantangan fisik.
Meskipun performa pribadinya terbilang moderat, keberuntungan berpihak pada Marquez dalam hal klasemen kejuaraan. Insiden jatuhnya rival Marco Bezzecchi dan finis ketiga yang diraih Jorge Martin membuat Marc Marquez tetap berada dalam jangkauan perebutan gelar. Saat ini, ia hanya terpaut 40 poin dari pemuncak klasemen, sebuah jarak yang masih sangat mungkin dikejar mengingat panjangnya musim balap. Hal ini memberikan motivasi ekstra bagi pebalap Spanyol itu untuk terus berjuang.
Balapan di Assen juga diwarnai insiden antara Marquez dengan pebalap lain. Ia terlibat kontak dengan Fabio Di Giannantonio yang melakukan manuver agresif dan memaksanya memotong tikungan terakhir (chicane). Insiden ini mengingatkan banyak pihak pada momen kontroversial antara Marquez dan Valentino Rossi di tikungan yang sama pada tahun 2015. Steward balapan memberikan penalti long lap kepada Di Giannantonio karena memotong chicane, meskipun ia masih mampu finis di posisi keempat.
Menanggapi insiden tersebut, Marquez menyebutnya sebagai "insiden balapan." "Yah, pada akhirnya itu adalah insiden balapan, karena – seperti yang dikatakan direksi balapan – itu adalah insiden balapan, karena Di Giannantonio mendapat penalti, tapi bukan karena kontak, melainkan karena ia memotong chicane," ujar Marquez. Dengan nada menyindir, ia menambahkan, "Setidaknya pada tahun 2015, saya melewati chicane," merujuk pada insiden dengan Rossi di mana ia tidak memotong tikungan. Komentar ini menunjukkan bahwa kenangan akan persaingan lama masih membekas.
Melihat gambaran klasemen kejuaraan yang sangat ketat, di mana 63 poin memisahkan delapan pebalap teratas, Marquez mengungkapkan pandangannya. "Maksud saya, saya merasa saya bukan yang terkuat, dan saya bukan yang tercepat, tapi tidak ada yang ingin menjadi yang tercepat," katanya. "Jadi saat ini, ada lima nama di kejuaraan yang bertarung di setiap balapan di sana." Pernyataan ini mencerminkan kerendahan hati sekaligus pengakuan atas level kompetisi yang sangat tinggi di MotoGP musim ini.
Perjalanan Marquez di Assen menegaskan bahwa di tengah keterbatasan fisik, pengalaman dan strategi cerdas tetap menjadi kunci. Prioritas untuk tetap bugar dan terhindar dari cedera menjadi pertimbangan utama, namun ia tetap berhasil menjaga posisinya dalam perebutan gelar. Dengan beberapa seri balap tersisa, kemampuan Marquez untuk beradaptasi dan memaksimalkan setiap peluang akan menjadi faktor penentu dalam perburuan gelar juara dunia MotoGP 2026.











