Dua puluh lima tahun berselang sejak peristiwa teror 11 September 2001, penelitian mendalam terhadap individu yang terpapar bencana tersebut kini memunculkan pelajaran berharga mengenai pengelolaan penyakit kronis pada populasi yang terdampak bencana. Temuan ini diulas dalam sebuah tinjauan yang dipublikasikan di jurnal JAMA.
Tinjauan tersebut mengacu pada data dari World Trade Center (WTC) Health Program. Program ini didirikan pada tahun 2011 dengan tujuan utama mengevaluasi dampak kesehatan jangka panjang terhadap mereka yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari serangan 9/11. Melalui program ini, para peneliti dapat memantau dan menganalisis kondisi kesehatan para penyintas, responden pertama, dan warga yang tinggal atau bekerja di sekitar area WTC selama bertahun-tahun.
Salah satu aspek terpenting dari WTC Health Program adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi dan melacak perkembangan berbagai penyakit kronis yang diduga berkaitan dengan paparan bencana. Penyakit-penyakit ini mencakup gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta berbagai jenis kanker dan kondisi kesehatan mental seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Dr. John Howard, direktur National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) di bawah Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menyatakan bahwa WTC Health Program telah bertransformasi menjadi sebuah model nasional. “Program WTC Health Program telah berkembang menjadi model nasional untuk perawatan longitudinal dan pengawasan populasi yang terpapar bencana,” ujar Dr. Howard. Pernyataan ini menyoroti efektivitas program dalam menyediakan perawatan berkelanjutan dan pemantauan kesehatan yang komprehensif bagi kelompok rentan.
Pelajaran yang didapat dari evaluasi jangka panjang ini sangat relevan untuk penanganan bencana di masa depan. Ini mencakup pentingnya sistem surveilans kesehatan yang kuat, akses berkelanjutan terhadap layanan medis, serta penelitian yang terus-menerus untuk memahami hubungan antara paparan lingkungan pasca-bencana dengan penyakit kronis. Selain itu, program ini juga menekankan perlunya dukungan psikososial bagi para penyintas dan responden pertama.
Pengalaman dari WTC Health Program menggarisbawahi bahwa dampak kesehatan dari sebuah bencana tidak berhenti pada fase akut, melainkan dapat berlanjut dan bermanifestasi sebagai penyakit kronis selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, strategi pengelolaan bencana yang efektif harus mencakup komponen perawatan kesehatan jangka panjang yang memadai dan adaptif.
