Thursday, 10 September 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Bahaya ‘Bodo Amat’ Berlebihan: Dampak Psikologis dan Sosial yang Perlu Diwaspadai

Oleh Muzairi M September 10, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sikap ‘bodo amat’ yang berlebihan, meski terkadang terasa melegakan, ternyata dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi kesehatan mental dan relasi sosial seseorang. Fenomena ini semakin banyak dibicarakan, menyoroti perlunya keseimbangan dalam merespons berbagai situasi.

Psikolog Klinis yang berpraktik di RS Pondok Indah Puri Indah, Jakarta Barat, Liza M. S. Siregar, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa sikap ‘bodo amat’ yang berlebihan dapat mengindikasikan adanya masalah psikologis yang lebih dalam. “Kalau dia terlalu sering ‘bodo amat’ terhadap apa pun, itu bisa jadi ada masalah,” ungkap Liza dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Kesehatan Jiwa (KPKJ) pada 2023 lalu.

Menurut Liza, sikap ini bisa menjadi mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat. Seseorang mungkin memilih untuk tidak peduli demi menghindari rasa sakit, kekecewaan, atau bahkan tanggung jawab. Namun, dalam jangka panjang, mekanisme ini justru dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kemampuan seseorang untuk menghadapi realitas.

Lebih lanjut, Liza memaparkan bahwa sikap ‘bodo amat’ yang ekstrem dapat memengaruhi interaksi sosial. Ketika seseorang terus-menerus menunjukkan ketidakpedulian, orang-orang di sekitarnya mungkin akan merasa diabaikan atau tidak dihargai. Hal ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan, baik dalam lingkup pertemanan, keluarga, maupun profesional.

Dampak lain yang tak kalah penting adalah terhadap kesehatan mental individu itu sendiri. Meskipun awalnya terasa sebagai cara untuk mengurangi stres, sikap ‘bodo amat’ yang berlebihan dapat menumpulkan empati dan mengurangi kemampuan seseorang untuk terhubung secara emosional dengan orang lain. Kondisi ini, jika dibiarkan, berpotensi mengarah pada perasaan isolasi dan kesepian yang mendalam.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali kapan sikap ‘bodo amat’ berubah menjadi sebuah masalah. Memiliki kemampuan untuk peduli, berempati, dan terlibat dalam berbagai aspek kehidupan, sambil tetap menjaga batasan yang sehat, merupakan kunci untuk menjaga keseimbangan psikologis dan sosial yang optimal. Mengatasi akar penyebab sikap ‘bodo amat’ yang berlebihan, misalnya melalui konseling, bisa menjadi langkah awal yang efektif.

Bagikan: Facebook X WhatsApp