Palangka Raya diselimuti kepulan asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terus berkobar. Kebakaran yang melanda kawasan ini telah menghanguskan ratusan hektare lahan, menciptakan dampak serius terhadap kualitas udara dan mengganggu berbagai aktivitas warga.
Pemandangan memprihatinkan terlihat di berbagai penjuru kota, di mana kabut asap tebal menjadi latar keseharian. Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat akibat paparan polusi udara, tetapi juga menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa luas lahan yang terdampak karhutla di Palangka Raya mencapai ratusan hektare. Luas ini terus bertambah seiring dengan belum padamnya api di sejumlah titik.
Petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, serta relawan terus berjuang memadamkan api. Namun, upaya pemadaman menghadapi tantangan berat, terutama dengan kondisi cuaca kering dan angin yang kencang, yang mempercepat penyebaran api.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Fahrizal Fitri, menyatakan keprihatinan atas situasi ini. “Kami terus berupaya keras melakukan pemadaman, baik melalui jalur darat maupun udara dengan water bombing. Namun, luasnya area yang terbakar dan kondisi medan yang sulit menjadi kendala,” ujar Fahrizal Fitri.
Selain upaya pemadaman, pemerintah daerah juga telah mengambil langkah-langkah mitigasi untuk melindungi masyarakat. Posko tanggap darurat didirikan untuk memantau perkembangan situasi dan memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kabut asap semakin parah. Penggunaan masker sangat direkomendasikan untuk melindungi saluran pernapasan. Pihak berwenang juga terus melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, yang merupakan salah satu penyebab utama karhutla.
