Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto memberikan lima penekanan arahan strategis untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Arahan ini disampaikan dalam rangka meningkatkan efektivitas dan sinergi antarlembaga dalam menghadapi ancaman karhutla yang kerap terjadi.
Prioritas utama dalam strategi ini adalah penguatan Satuan Tugas (Satgas) Darat. Suharyanto menekankan pentingnya mobilisasi sumber daya manusia yang optimal di lapangan untuk melakukan pemadaman dan pencegahan secara langsung. Keberadaan satgas darat yang kuat dianggap krusial dalam merespons cepat setiap titik api yang terdeteksi.
Selain itu, mobilisasi alat dan perlengkapan yang memadai menjadi poin krusial kedua. BNPB akan memastikan ketersediaan dan distribusi alat pemadam kebakaran, baik yang konvensional maupun modern, serta dukungan logistik lainnya agar operasional penanganan karhutla dapat berjalan lancar. Pemanfaatan teknologi terkini dalam pemadaman juga menjadi bagian dari penekanan ini.
Ketiga, akurasi dan kecepatan pembaruan data firespot atau titik panas menjadi sangat penting. Kepala BNPB menginstruksikan agar data mengenai lokasi, luasan, dan perkembangan karhutla dapat dilaporkan secara real-time. Data yang akurat akan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis yang tepat sasaran.
Penekanan keempat adalah fokus pada pemadaman lahan gambut. Mengingat karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, strategi khusus diperlukan. Upaya pemadaman harus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan untuk mencegah api merembet lebih luas serta meminimalkan dampak asap.
Terakhir, Suharyanto menegaskan pentingnya koordinasi dan sinergi yang erat antara seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan, mitigasi, dan penanganan karhutla secara komprehensif di Kalimantan Selatan.
