Penyakit Parkinson membebani perekonomian Eropa dengan total biaya mencapai 22,8 miliar Euro, atau sekitar 26,5 miliar Dolar Amerika Serikat, pada tahun 2019. Angka ini mencakup biaya langsung, informal, dan tidak langsung, yang secara signifikan membebani pasien, pengasuh, dan masyarakat secara keseluruhan. Data ini dipublikasikan dalam jurnal Movement Disorders.
Peningkatan prevalensi Parkinson turut berkontribusi terhadap tingginya biaya tersebut. Faktor utamanya adalah populasi yang menua dan kemajuan dalam metode diagnosis. Richard Dodel, MD, seorang profesor di departemen kedokteran geriatri Universitas Duisburg-Essen, Jerman, bersama timnya, menggarisbawahi fenomena ini dalam laporan mereka.
Menurut Dodel dan rekan-rekannya, evaluasi terakhir mengenai biaya gangguan neurologis, termasuk penyakit Parkinson, di tingkat Eropa dilakukan pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa angka 22,8 miliar Euro pada tahun 2019 merupakan peningkatan signifikan yang perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Beban ekonomi ini terbagi dalam beberapa kategori. Biaya langsung merujuk pada pengeluaran medis yang terkait langsung dengan penanganan Parkinson, seperti kunjungan dokter, obat-obatan, terapi, dan perawatan rumah sakit. Sementara itu, biaya informal melibatkan waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh anggota keluarga atau teman untuk merawat pasien, yang seringkali tidak dihitung sebagai biaya moneter langsung namun memiliki dampak ekonomi yang besar bagi keluarga.
Selanjutnya, biaya tidak langsung mencakup hilangnya produktivitas akibat penyakit Parkinson. Pasien mungkin tidak dapat bekerja atau mengalami penurunan kemampuan kerja, yang berujung pada hilangnya pendapatan bagi individu dan kontribusi ekonomi bagi negara. Pengasuh juga dapat mengalami dampak serupa jika mereka harus mengurangi jam kerja atau berhenti bekerja untuk merawat orang yang mereka cintai.
Pertumbuhan populasi lansia di Eropa menjadi salah satu pendorong utama peningkatan kasus Parkinson. Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang terkena penyakit neurodegeneratif ini pun meningkat. Selain itu, kemajuan dalam teknologi diagnostik memungkinkan deteksi Parkinson pada tahap yang lebih awal, sehingga lebih banyak kasus yang teridentifikasi dan tercatat.
Kondisi ini menuntut adanya strategi penanganan yang komprehensif, tidak hanya dari sisi medis tetapi juga dukungan sosial dan ekonomi bagi para penderita Parkinson dan keluarganya. Peningkatan kesadaran publik dan investasi dalam penelitian untuk menemukan pengobatan yang lebih efektif dan pencegahan menjadi langkah krusial dalam mengendalikan beban biaya penyakit Parkinson di masa mendatang.
