Wednesday, 9 September 2026
BREAKING
KESEHATAN

U = U dan Menyusui: Realitas Penularan HIV pada Ibu dan Bayi

Oleh Rini Widiyarti September 9, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Konsep “Undetectable = Untransmittable” atau U = U, yang menegaskan bahwa orang dengan HIV dengan beban virus tidak terdeteksi melalui pengobatan tidak dapat menularkan virus secara seksual, kini semakin dikenal luas. Kampanye kesadaran U = U, yang telah berlangsung lama, menyoroti efektivitas pengobatan HIV modern yang berakar sejak satu dekade lalu. Namun, pesan ini menjadi lebih kompleks ketika dihadapkan pada isu menyusui oleh ibu yang hidup dengan HIV.

Sebuah editorial yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet HIV mengulas persoalan ini lebih mendalam. Dvora Joseph Davey, PhD, seorang ahli epidemiologi penyakit menular dan profesor di UCLA, bersama rekan-rekannya, membahas nuansa penularan HIV melalui pemberian ASI.

Meskipun pengobatan antiretroviral (ARV) sangat efektif dalam menekan jumlah virus HIV dalam tubuh hingga tidak terdeteksi, sehingga menghilangkan risiko penularan seksual, para peneliti menekankan bahwa situasi menyusui memiliki tantangan tersendiri. Hal ini terutama berkaitan dengan potensi virus yang masih dapat hadir dalam ASI, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

Tim peneliti, termasuk Dr. Davey, berargumen bahwa pemahaman mengenai U = U perlu diperluas untuk mencakup konteks menyusui. Mereka menyarankan bahwa ibu yang hidup dengan HIV dan menjalani pengobatan ARV yang efektif, yang menghasilkan beban virus tidak terdeteksi, mungkin memiliki risiko penularan HIV yang sangat rendah kepada bayi mereka melalui ASI. Namun, risiko ini, sekecil apapun, tetap menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan.

Editorial tersebut menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut untuk secara definitif menentukan tingkat keamanan menyusui bagi ibu dengan beban virus tidak terdeteksi. Saat ini, rekomendasi global masih bervariasi, namun banyak organisasi kesehatan masyarakat menekankan pentingnya pengobatan ARV yang konsisten dan teratur sebagai langkah krusial untuk meminimalkan risiko penularan HIV, baik secara seksual maupun dari ibu ke anak.

Para ahli sepakat bahwa kemajuan dalam pengobatan HIV telah merevolusi cara pandang terhadap virus ini, mengubahnya dari vonis mematikan menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola. Namun, dalam konteks menyusui, kehati-hatian dan pemahaman yang komprehensif mengenai potensi risiko, sekecil apapun, tetap menjadi prioritas demi kesehatan bayi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp