Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, melontarkan kritik tajam terhadap tindakan pembakaran rumah warga Palestina atau warga Arab Israel yang tidak bersalah. Ia dengan tegas menyebut aksi tersebut sebagai bentuk “terorisme Yahudi”. Pernyataan ini disampaikan Bennett dalam sebuah wawancara yang mengungkap pandangannya mengenai eskalasi kekerasan yang terjadi.
Bennett, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dari 13 Juni 2021 hingga 30 Juni 2022, menyampaikan pandangannya bahwa tindakan kekerasan yang menargetkan warga sipil, termasuk pembakaran rumah, tidak dapat dibenarkan atas dasar apapun. Ia menekankan bahwa esensi dari terorisme adalah penargetan terhadap individu yang tidak bersalah, terlepas dari latar belakang agama atau etnis mereka.
Lebih lanjut, Bennett mengutip contoh spesifik mengenai insiden yang terjadi, di mana rumah-rumah warga dibakar. Ia menyatakan, “Jika Anda membakar rumah warga Arab Israel yang tidak bersalah, itu adalah terorisme.” Pernyataan ini secara implisit merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh kelompok ekstremis tertentu yang mengatasnamakan identitas Yahudi, namun melakukan kekerasan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Mantan pemimpin Israel ini juga menyoroti perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan, tanpa memandang identitas mereka. Baginya, keadilan harus ditegakkan demi menjaga ketertiban dan keamanan bagi seluruh warga. Bennett menambahkan, “Tindakan seperti itu adalah terorisme.” Pernyataannya ini menggarisbawahi bahwa esensi dari tindakan terorisme tidak berubah, meskipun pelakunya mengklaim mewakili kelompok tertentu.
Pernyataan Naftali Bennett ini menjadi sorotan karena datang dari seorang mantan pemimpin negara yang memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika konflik di wilayah tersebut. Pandangannya yang lugas mengenai terorisme, tanpa terkecuali, diharapkan dapat memicu refleksi lebih luas mengenai akar kekerasan dan pentingnya menjaga prinsip-prinsip kemanusiaan dalam setiap tindakan.
