Wednesday, 9 September 2026
BREAKING
BERITA

Kemarau Panjang Ubah Sungai Kalimantan Jadi Gurun Pasir Buatan

Oleh Emanuel September 9, 2026 42 minutes lalu 0 komentar

Fenomena El Nino dan kemarau panjang yang melanda Kalimantan telah mengubah wajah sejumlah sungai utama di pulau tersebut. Kondisi air yang menyusut drastis membuat dasar sungai yang biasanya terendam kini terbuka, menyerupai lanskap gurun pasir.

Perubahan dramatis ini terlihat jelas di beberapa titik sungai di Kalimantan. Hamparan pasir dan kerikil yang sebelumnya tertutup air kini membentang luas, menciptakan pemandangan tak lazim bagi daerah yang dikenal kaya akan sungai dan hutan hujan tropis.

Ahli klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr. Herry Purnomo, menjelaskan bahwa anomali iklim seperti El Nino memang berpotensi menyebabkan kekeringan ekstrem. “El Nino adalah anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Dampaknya bisa berupa penurunan curah hujan yang signifikan,” ujar Dr. Herry Purnomo.

Penyusutan air sungai ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat setempat. Aktivitas seperti transportasi air, perikanan, dan kebutuhan rumah tangga yang bergantung pada pasokan air sungai terganggu. Penduduk yang sebelumnya memanfaatkan sungai sebagai jalur utama kini harus mencari alternatif lain.

Salah satu warga Desa Sungai Padi, Kalimantan Tengah, Ibu Siti Aminah, mengungkapkan keprihatinannya. “Biasanya sungai ini ramai perahu, sekarang seperti jalan setapak saja. Kami kesulitan mencari air bersih untuk minum dan memasak,” keluhnya.

Pihak pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Tengah telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap meningkat saat musim kemarau.

Kepala DLHK Kalimantan Tengah, Bapak Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi hidrologis di seluruh wilayah. “Kami bekerja sama dengan BMKG untuk memprediksi potensi kekeringan lebih lanjut dan mempersiapkan langkah mitigasi. Selain itu, patroli pencegahan karhutla juga ditingkatkan,” kata Bapak Budi Santoso.

Para ahli mengingatkan bahwa perubahan iklim global dapat memperparah fenomena seperti ini di masa mendatang. Adaptasi dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan serupa di kemudian hari.

Bagikan: Facebook X WhatsApp