Monday, 7 September 2026
BREAKING
EKONOMI

Prediksi Menkeu AS: Selat Hormuz Kehilangan Signifikansi Ekonomi dalam 2 Tahun

Oleh Yohanes September 7, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS), Scott Bessent, baru-baru ini mengeluarkan prediksi yang berpotensi mengubah peta energi global. Ia memperkirakan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, akan kehilangan nilai strategisnya dalam kurun waktu dua tahun ke depan.

Pernyataan Bessent ini bukan sekadar gertakan retoris, melainkan sebuah proyeksi yang didasari oleh perkembangan pesat dalam sektor energi. Kemajuan teknologi dan diversifikasi sumber energi menjadi faktor utama yang mendorong keyakinan Menkeu AS tersebut.

Menurut Bessent, Amerika Serikat telah berhasil mengurangi ketergantungannya pada minyak mentah dari Timur Tengah. “Kami tidak lagi membutuhkan minyak dari Timur Tengah,” ujar Bessent dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa AS kini mampu memproduksi minyaknya sendiri dalam jumlah besar, yang secara signifikan mengurangi kebutuhan untuk mengimpor dari kawasan tersebut. Prediksi ini selaras dengan laporan Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) yang mencatat peningkatan produksi minyak mentah AS mencapai 13,2 juta barel per hari pada 2024.

Lebih lanjut, Bessent menyoroti pergeseran lanskap energi global yang semakin menjauhi bahan bakar fosil. Investasi besar-besaran pada energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, serta pengembangan teknologi penyimpanan energi, turut berkontribusi pada menurunnya dominasi minyak mentah dalam bauran energi dunia. Hal ini secara otomatis akan mengurangi urgensi pengawasan terhadap jalur-jalur pelayaran minyak tradisional seperti Selat Hormuz.

Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan titik sempit yang dilalui oleh sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia. Setiap gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga minyak global dan ketidakstabilan ekonomi. Namun, dengan perubahan fundamental dalam pola produksi dan konsumsi energi, peran vital selat tersebut diperkirakan akan terkikis.

Prediksi Bessent ini membuka babak baru dalam diskusi mengenai keamanan energi dan geopolitik global. Kemampuan AS untuk mandiri dalam pasokan energi tidak hanya berdampak pada posisinya di pasar internasional, tetapi juga berpotensi mengubah dinamika hubungan diplomatik dan militer di kawasan Timur Tengah. Pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana negara-negara lain akan beradaptasi dengan perubahan signifikan ini dan apa implikasinya terhadap perekonomian global secara keseluruhan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp