Jakarta mulai merasakan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Sejumlah wilayah di ibu kota dilaporkan kemasukan abu vulkanik, memicu kekhawatiran warga dan lonjakan permintaan masker. Fenomena ini terjadi menyusul penyebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang telah meluas ke beberapa daerah.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, mengonfirmasi bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memang terdeteksi telah mencapai wilayah Jakarta. Ia menjelaskan bahwa arah angin saat erupsi membawa material vulkanik tersebut hingga ke ibu kota.
Kondisi ini sontak membuat warga Jakarta bergegas mencari perlindungan. Sejumlah apotek dan toko alat kesehatan di berbagai titik di Jakarta dilaporkan mengalami peningkatan signifikan dalam penjualan masker. Stok masker di beberapa tempat bahkan dilaporkan menipis akibat diburu oleh masyarakat yang ingin melindungi diri dari paparan abu.
Seorang warga, Budi Santoso, mengaku baru menyadari adanya abu vulkanik setelah melihat lapisan tipis di kendaraan dan jendela rumahnya pada pagi hari. “Saya kaget lihat ada debu-debu halus di mobil. Langsung kepikiran beli masker buat jaga-jaga,” ujarnya saat ditemui di sebuah apotek di kawasan Jakarta Selatan.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan yang diberikan. Meskipun abu vulkanik terdeteksi, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam status Waspada (Level II). Namun, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau secara intensif. Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi melalui sumber resmi dan menghindari aktivitas di sekitar puncak kawah dalam radius yang telah ditetapkan. Penggunaan masker di area terbuka direkomendasikan sebagai langkah pencegahan dini terhadap dampak kesehatan akibat abu vulkanik.
