Qantas Taklukkan Jarak: Siap Luncurkan Penerbangan Langsung London-Sydney 22 Jam Pertama di Dunia

Yohanes

Maskapai penerbangan nasional Australia, Qantas, bersiap mencetak sejarah baru dalam dunia aviasi dengan meluncurkan penerbangan non-stop pertama dari London menuju Sydney. Rute ultra-long-haul yang diperkirakan memakan waktu lebih dari 20 jam, atau sekitar 22 jam, ini dijadwalkan akan mulai beroperasi pada Oktober 2027. Pengumuman monumental ini dilakukan oleh CEO Qantas, Vanessa Hudson, di markas besar Airbus di Toulouse, Prancis, menandai era baru dalam upaya menaklukkan "tirani jarak" yang selama ini menjadi ciri khas penerbangan ke Australia.

Rute yang diberi nama Project Sunrise ini digadang-gadang sebagai terobosan besar, mengurangi sekitar empat jam waktu perjalanan dari durasi penerbangan London-Sydney yang ada saat ini dengan satu transit. Sejak pertama kali melayani "Kangaroo Route" pada tahun 1947, Qantas telah secara bertahap mengurangi jumlah pemberhentian dari tujuh transit dan empat hari perjalanan, hingga saat ini hanya satu transit di Singapura. Kini, setelah 80 tahun perjalanan historis tersebut, visi penerbangan langsung akhirnya menjadi kenyataan.

Untuk mewujudkan penerbangan maraton ini, Qantas akan menggunakan pesawat Airbus A350-1000 yang dirancang khusus untuk rute ultra-long-haul. Pesawat ini dilengkapi tangki bahan bakar tambahan untuk mendukung waktu terbang hingga 22 jam. Sebanyak 12 unit Airbus A350-1000 pertama akan dikirimkan kepada Qantas mulai April 2026. Desain interior kabin juga dioptimalkan dengan pencahayaan dan jadwal makan yang disesuaikan untuk meminimalkan jetlag saat tiba di destinasi.

Namun, di balik optimisme ini, Qantas menghadapi sejumlah tantangan dan pertimbangan. Meskipun penerbangan langsung akan menghemat biaya pendaratan, Hudson mengakui bahwa biaya bahan bakar relatif akan lebih tinggi. Selain itu, pesawat akan memiliki lebih sedikit kursi, dengan hampir 40% di antaranya dialokasikan untuk kelas premium ekonomi, bisnis, atau kelas satu. Hal ini menunjukkan target pasar Qantas adalah pelancong premium dan mereka yang sangat menghargai waktu.

Untuk mengatasi potensi masalah kesehatan seperti trombosis vena dalam (DVT) yang dapat timbul dari penerbangan berdurasi sangat panjang, Qantas telah memperluas ruang kaki di kelas ekonomi. Maskapai ini juga akan menyediakan "ruang kesehatan" khusus di mana penumpang dapat melakukan peregangan atau bergerak lebih leluasa, sebuah inovasi yang bertujuan meningkatkan kenyamanan penumpang selama perjalanan panjang.

Respons pasar terhadap inovasi ini bervariasi. Karis Heemskerk, seorang agen perjalanan berusia 41 tahun dari Australia, menyatakan antusiasmenya. Ia telah beberapa kali terbang rute Perth ke London yang berdurasi sekitar 18 jam, bahkan bersama suami dan kedua anaknya. Baginya, penerbangan langsung sangat efisien, menghilangkan risiko koneksi yang terlewat atau kehilangan bagasi. "Secara keseluruhan, saya sangat menyukai penerbangan langsung," ujarnya kepada BBC.

Di sisi lain, tidak semua pelancong setuju. Tom Gill, seorang konsultan budaya berusia 33 tahun yang sering bepergian antara London dan Melbourne, merasa keberatan. "Saya tidak keberatan sama sekali dengan transit di bandara: gagasan duduk di pesawat selama 20, 21 jam non-stop akan sangat tak tertahankan bagi saya," kata Gill. Faktor utama baginya adalah biaya, yang diperkirakan akan 20% lebih mahal dari penerbangan Sydney ke London saat ini dengan transit.

Bryan Terry, Direktur Pelaksana Alton Aviation Consultancy, mengamati bahwa permintaan untuk layanan semacam ini cenderung sempit. Ia menjelaskan bahwa Qantas menargetkan pelancong premium dan yang sensitif terhadap waktu, yang bersedia membayar harga lebih tinggi untuk menghindari transit di hub seperti Dubai, Singapura, atau Los Angeles. Terry mencontohkan keberhasilan rute terpanjang dunia saat ini, Singapura-New York yang dioperasikan Singapore Airlines, sebagai bukti bahwa orang bersedia membayar lebih untuk penerbangan non-stop. Data dari ABTA juga menunjukkan peningkatan jumlah perjalanan dari Inggris ke Australia dalam setahun terakhir, terutama di kalangan usia 18-24 tahun, menegaskan daya tarik destinasi ini.

Terry menyebut Project Sunrise sebagai upaya Qantas untuk menaklukkan "salah satu batas terakhir dalam penerbangan komersial." Setiap generasi pesawat telah mengurangi isolasi geografis Australia, namun penerbangan non-stop Sydney ke London atau New York selalu berada di luar jangkauan hingga saat ini. Proyek yang diluncurkan pada tahun 2017 ini memang sempat menghadapi beberapa kemunduran dan penundaan, tetapi kini tampaknya akan segera terwujud.

Pilot uji utama Airbus, Malcolm Ridley, mengungkapkan bahwa penyesuaian teknis untuk pesawat A350-1000 agar mampu melakukan penerbangan ultra-long-haul relatif sederhana. Ia juga menambahkan bahwa sudah ada minat informal dari maskapai pesaing terhadap pesawat modifikasi ini, dan diperkirakan minat akan meningkat setelah pesawat mulai beroperasi dan kemampuannya terlihat.

Pengumuman rute baru yang premium ini juga datang setelah paruh pertama dekade yang penuh gejolak bagi maskapai kebanggaan Australia tersebut. Pada tahun 2024, Qantas setuju untuk membayar denda sebesar A$100 juta (sekitar Rp1 triliun) untuk menyelesaikan kasus hukum dengan pengawas konsumen Australia, setelah dituduh menjual tiket penerbangan yang telah dibatalkan, mempengaruhi hingga 880.000 konsumen. Setahun sebelumnya, Qantas juga didenda rekor A$90 juta setelah sengketa hubungan industrial bertahun-tahun karena mengalihdayakan operasi penanganan darat di Australia, yang mengakibatkan pemecatan 1.800 staf.

Kontroversi dan masalah ketepatan waktu ini menyebabkan Qantas anjlok dalam peringkat Skytrax Awards, dari posisi ke-5 hanya dua tahun sebelumnya menjadi peringkat ke-24 maskapai terbaik dunia pada tahun 2024, peringkat terburuknya sepanjang sejarah. Vanessa Hudson, yang mulai menjabat sebagai CEO pada tahun 2023 dengan permintaan maaf atas kegagalan maskapai, menegaskan bahwa Qantas telah fokus membangun kembali kepercayaan. "Kami telah bekerja keras meningkatkan kinerja ketepatan waktu, berinvestasi dalam pengalaman pelanggan di semua armada dan jaringan kami," katanya.

Meskipun Hudson merasa kepuasan pelanggan dan keandalan maskapai telah meningkat pesat, ia menekankan bahwa pekerjaan ini tidak pernah selesai. Bagi Qantas, Project Sunrise bukan hanya sekadar rute baru, melainkan sebuah langkah maju signifikan dalam memberikan apa yang diinginkan pelanggan, sekaligus memposisikan kembali maskapai di garis depan inovasi penerbangan global. Banyak pihak di industri aviasi kini menanti dengan saksama bagaimana terobosan ini akan mengubah lanskap perjalanan udara jarak jauh.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All