Mantan Menteri Transportasi Amerika Serikat, Pete Buttigieg, baru-baru ini mengungkapkan pengalaman traumatisnya dipaksa berpisah sementara dari kedua anak kembarnya yang berusia empat tahun. Perpisahan menyakitkan itu terjadi setelah adanya laporan palsu yang diajukan secara anonim kepada pihak berwenang, yang kemudian dikonfirmasi tidak berdasar dan diyakini kuat bermotif politik. Insiden ini menyoroti dampak serius penyalahgunaan sistem perlindungan anak untuk tujuan pribadi atau politik yang merugikan.
Kepolisian Negara Bagian Michigan (Michigan State Police) menyatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti apa pun untuk mendukung klaim tersebut. Mereka meyakini laporan anonim itu didorong oleh motif politik, seperti yang juga disampaikan oleh Buttigieg, seorang politisi dari Partai Demokrat. Pengungkapan ini, yang ia bagikan melalui platform Substack pribadinya, disebut Buttigieg sebagai "salah satu jam tergelap dalam hidup saya."
Buttigieg menjelaskan, setelah menerima laporan anonim yang menuduhnya membahayakan anak-anaknya, polisi segera mengatur jadwal wawancara forensik untuk si kembar. Ia pun diberitahu secara resmi bahwa tidak boleh sendirian bersama anak-anaknya hingga wawancara penting tersebut selesai dilakukan. Situasi mendadak ini menciptakan ketegangan dan kecemasan luar biasa bagi Buttigieg dan suaminya, Chasten Glezman Buttigieg.
"Saya tidak bisa menggambarkan campuran kemarahan dan kesedihan yang saya rasakan atas gagasan bahwa seseorang menyeret anak-anak kami ke dalam masalah ini," tulis Buttigieg dalam unggahannya. Ia menambahkan dengan getir bahwa anak-anaknya yang masih berusia empat tahun "tidak tahu atau peduli apa itu Demokrat atau Republik," menekankan bahwa mereka adalah korban tak bersalah dalam pusaran politik yang kejam ini. Kekhawatiran Buttigieg juga meluas pada "efek tak terlihat" dari cobaan berat ini terhadap dirinya, suaminya, dan terutama anak-anak mereka.
Insiden yang mengganggu ini terjadi tak lama setelah Buttigieg membagikan foto-foto kebersamaan keluarganya di media sosial untuk merayakan Hari Ayah. Momen kebahagiaan yang seharusnya penuh suka cita itu dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk akibat tuduhan tak berdasar yang mengancam keutuhan keluarganya. Buttigieg membandingkan laporan palsu tersebut dengan "Swatting" versi Child Protective Services (CPS), sebuah praktik berbahaya di mana penelepon iseng mengirim polisi bersenjata ke rumah orang lain dengan klaim palsu.
Ia merinci lebih lanjut isi laporan yang diterima CPS, di mana seorang penelepon anonim mengklaim telah berbicara dengan seorang wanita tertentu. Wanita itu disebut bertemu Buttigieg di sebuah konferensi di Alabama beberapa tahun lalu dan mendengar Buttigieg mengaku telah melakukan "kejahatan kekerasan yang tak terkatakan." Penelepon tersebut kemudian menyatakan keyakinannya bahwa anak-anak Buttigieg masih berisiko besar.
Namun, petugas kepolisian yang menanggapi laporan di kediaman Buttigieg segera menyadari adanya motif di balik tuduhan tersebut. Petugas tersebut "menegaskan bahwa ia meyakini ini bermotif politik" dan memutuskan bahwa kasus ini tidak akan dirujuk ke jaksa penuntut umum. Buttigieg mengecam tindakan tersebut, menyatakan bahwa waktu dan sumber daya aparat penegak hukum "terbuang dalam tipuan kejam bermotif politik yang merugikan keluarga kami" dan mengalihkan perhatian dari kasus-kasus nyata.
Kepolisian Negara Bagian Michigan secara resmi mengonfirmasi insiden tersebut kepada BBC, menyatakan bahwa "Minggu ini, Kepolisian Negara Bagian Michigan menerima laporan anonim." Pernyataan resmi mereka melanjutkan, "Kepolisian Negara Bagian Michigan dan Child Protective Services menanggapi dan menentukan laporan itu palsu." MSP juga menegaskan bahwa laporan palsu semacam itu "berbahaya" karena "mengalihkan pekerja dari menanggapi keadaan darurat yang sah dan melindungi anak-anak serta keluarga yang rentan."
Sebagai seorang politikus gay yang terbuka dan tokoh publik, Buttigieg dan keluarganya telah menjadi target serangan anti-LGBTQ+ di masa lalu. Ia menyoroti fakta bahwa insiden ini terjadi selama Bulan Kebanggaan (Pride Month), sebuah periode di mana komunitas LGBTQ+ merayakan identitas dan memperjuangkan hak-hak mereka. "Kami terbiasa dengan hal-hal kejam, penuh kebencian, dan kadang-kadang kekerasan yang dikatakan tentang kami dan bahkan tentang keluarga kami," tulisnya. "Tapi ini adalah pertama kalinya seseorang berhasil menginvasi hidup kami seperti ini – dan menyeret anak-anak kami ke dalamnya," ungkapnya dengan nada prihatin.
Pete Buttigieg, yang sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota South Bend, Indiana, dan kemudian Menteri Transportasi di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, memiliki rekam jejak politik yang signifikan. Ia pernah mencalonkan diri sebagai kandidat presiden pada tahun 2020 dan secara luas disebut-sebut sebagai calon potensial untuk Gedung Putih pada tahun 2028. Bersama suaminya, Chasten, ia menjadi orang tua untuk pertama kalinya pada tahun 2021 setelah mengadopsi anak kembar fraternal, Joseph August dan Penelope Rose.
Insiden yang menimpa keluarga Buttigieg ini tidak hanya mengganggu privasi dan keamanan pribadi mereka, tetapi juga menjadi pengingat tajam akan bahaya polarisasi politik yang ekstrem di Amerika Serikat. Penyalahgunaan sistem perlindungan anak untuk tujuan yang merugikan ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang integritas institusi dan perlindungan individu dari serangan tak bertanggung jawab yang merusak, terutama ketika anak-anak yang tidak bersalah menjadi sasarannya.










