Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Nurtanio (Unnur) berhasil menciptakan sebuah prototipe drone yang tidak menggunakan material plastik maupun logam dalam pembuatannya. Inovasi ini menjadi langkah signifikan dalam pengembangan teknologi penerbangan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Penelitian yang dilakukan oleh tim gabungan ini berfokus pada pemanfaatan material alternatif yang memiliki kekuatan dan ketahanan setara, namun dengan jejak lingkungan yang jauh lebih minimal. Konsep di balik pengembangan drone ini adalah mengurangi ketergantungan pada material konvensional yang seringkali sulit terurai dan berkontribusi pada masalah sampah.
Menurut Deputi Bidang Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, pengembangan drone ini merupakan bagian dari upaya BRIN untuk terus berinovasi di berbagai sektor, termasuk teknologi kedirgantaraan. Ia menyatakan, “BRIN terus mendorong riset dan inovasi di berbagai bidang, termasuk kedirgantaraan, untuk menghasilkan teknologi yang tidak hanya canggih tetapi juga berkelanjutan.”
Proses pengembangan prototipe drone tanpa plastik dan logam ini melibatkan riset mendalam mengenai material komposit berbasis serat alam dan resin ramah lingkungan. Tim peneliti menguji berbagai kombinasi material untuk memastikan kekuatan struktural, bobot yang optimal, serta daya tahan terhadap kondisi operasional yang dibutuhkan oleh sebuah drone.
Meskipun detail spesifik mengenai material pengganti plastik dan logam belum diungkapkan secara rinci, penampakan prototipe yang telah diperlihatkan menunjukkan sebuah perangkat yang kokoh dan fungsional. Desainnya pun dirancang agar tetap aerodinamis dan mampu membawa beban sesuai spesifikasi yang diinginkan.
Kerja sama antara BRIN dan Universitas Nurtanio ini diharapkan dapat membuka jalan bagi produksi drone yang lebih ramah lingkungan di masa depan. Inisiatif ini sejalan dengan tren global menuju ekonomi sirkular dan pengurangan emisi karbon, yang menuntut pengembangan teknologi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Lebih lanjut, Agus Haryono menambahkan bahwa kolaborasi semacam ini sangat penting untuk mempercepat transfer teknologi dari lembaga riset ke industri. “Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Unnur sangat penting untuk mengakselerasi inovasi dan transfer teknologi, sehingga hasil riset dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri,” ujarnya.
Keberhasilan ini menandai potensi besar Indonesia dalam menciptakan teknologi maju yang tidak hanya bersaing secara global, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Prototipe drone ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan.
