Saturday, 5 September 2026
BREAKING
POLITIK

Erupsi Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan Kamera Pemantau, Pengamatan Beralih ke Metode Manual

Oleh Danu Ilham September 5, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan erupsi terbaru yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah kamera pemantau. Kejadian ini memaksa tim pemantau untuk mengalihkan metode pengamatan menjadi sepenuhnya manual, demi memastikan kelanjutan monitoring terhadap kondisi gunung berapi yang ikonik ini.

Erupsi yang terjadi pada hari Kamis, 18 April 2024, sekitar pukul 00.00 WIB, mengeluarkan asap kelabu tebal dengan ketinggian mencapai 1.000 meter di atas puncak kawah. Kolom abu tersebut teramati bergerak ke arah utara. Kejadian ini telah dilaporkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa pasca-erupsi tersebut, kamera pemantau yang terpasang di beberapa titik mengalami kerusakan. “Akibat erupsi tersebut, beberapa kamera yang terpasang mengalami kerusakan,” ujar Hendra Gunawan. Ia menambahkan bahwa kondisi ini berdampak pada terputusnya aliran listrik ke beberapa alat pemantau.

Dengan rusaknya fasilitas pemantauan otomatis, tim PVMBG kini mengandalkan pengamatan visual secara langsung dan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. “Saat ini pemantauan dilakukan secara manual,” tegas Hendra Gunawan. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa seluruh aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap terpantau secara ketat demi kewaspadaan dini.

Status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati area kawah dalam radius 5 kilometer dari puncak gunung. Selain itu, aktivitas pelayaran di sekitar Gunung Anak Krakatau juga diminta untuk berhati-hati dan memperhatikan potensi bahaya.

PVMBG terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau secara intensif, meskipun dengan keterbatasan alat pemantau yang terdampak erupsi. Informasi terkini mengenai status dan potensi bahaya akan terus disampaikan kepada publik.

Bagikan: Facebook X WhatsApp