Badan Pangan Nasional (Bapanas) baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan terkait kualitas beras fortifikasi yang beredar di masyarakat. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap sejumlah sampel, ditemukan bahwa 93% di antaranya tidak memenuhi standar dan ketentuan yang telah ditetapkan. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai klaim nutrisi yang selama ini disematkan pada produk beras tersebut.
Menteri Pertanian periode 2014-2019, Amran Sulaiman, menyuarakan kekecewaannya atas hasil temuan Bapanas. Ia menyatakan, “Katanya bervitamin, ternyata tidak.” Pernyataan ini menggarisbawahi adanya kesenjangan antara promosi produk beras fortifikasi yang menjanjikan kandungan vitamin, dengan realitas kualitas yang ditemukan melalui pengujian.
Lebih lanjut, Amran Sulaiman merinci bahwa dari total 2.800 sampel beras fortifikasi yang diuji, hanya 200 sampel yang dinyatakan lolos standar. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas beras fortifikasi yang beredar tidak sesuai dengan spesifikasi yang seharusnya. Padahal, beras fortifikasi dirancang untuk meningkatkan asupan mikronutrien esensial bagi masyarakat, terutama di daerah yang rentan terhadap kekurangan gizi.
Mantan Menteri Pertanian ini juga menyoroti dampak negatif yang mungkin timbul akibat beredarnya beras fortifikasi berkualitas rendah. Ia mengkhawatirkan masyarakat telah tertipu dengan janji kandungan vitamin yang ternyata tidak terpenuhi. Hal ini tidak hanya merugikan konsumen secara finansial, tetapi juga berpotensi mengurangi kepercayaan publik terhadap program pangan yang bertujuan untuk perbaikan gizi nasional.
Menanggapi temuan ini, Amran Sulaiman mendesak agar ada tindakan tegas dari pihak terkait. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap produksi dan distribusi beras fortifikasi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa produk yang sampai ke tangan konsumen benar-benar memiliki kualitas dan kandungan nutrisi sesuai dengan yang dijanjikan, demi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
