Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, menunjukkan sikap menahan diri dalam menghadapi potensi eskalasi konflik dengan Iran. Upaya ini dilakukan oleh para ajudan Trump untuk mencegah perang yang bisa berdampak pada elektabilitasnya menjelang pemilihan presiden AS.
Strategi “menahan diri” ini menjadi kunci dalam kebijakan luar negeri AS terkait Iran. Namun, rencana tersebut terancam oleh kemungkinan serangan balasan dari Iran, yang bisa memicu respons lebih keras dari Washington.
Pihak Gedung Putih, melalui pernyataan dari Penasihat Keamanan Nasional Robert O’Brien, menegaskan komitmen AS untuk tidak mencari perang dengan Iran. “Kami tidak mencari perang dengan Iran, tetapi kami tidak akan ragu-ragu untuk membela kepentingan kami,” ujar O’Brien pada Minggu, 13 September 2020.
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan pasca-pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, pada November 2020. Sebagian kalangan di AS, termasuk para pendukung garis keras, mendesak Trump untuk mengambil tindakan militer yang lebih tegas terhadap Iran. Namun, Trump tampaknya lebih memilih jalur yang lebih hati-hati.
Keputusan Trump untuk menahan diri ini bukan tanpa alasan. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional, John Ullyot, menyatakan bahwa presiden telah menginstruksikan para penasihatnya untuk tidak memberikan opsi militer yang dapat memicu perang baru dengan Iran. “Presiden Trump telah menginstruksikan para penasihatnya untuk tidak menyajikan opsi militer apa pun yang dapat memicu perang baru dengan Iran,” kata Ullyot pada 1 Januari 2021.
Meskipun demikian, situasi keamanan di Timur Tengah tetap rentan. Ancaman serangan balasan dari Iran selalu ada, dan respons AS terhadap serangan tersebut bisa menjadi titik kritis yang menguji kesabaran Trump. Para analis berpendapat bahwa Trump tengah berupaya menavigasi situasi yang kompleks ini dengan hati-hati, menimbang antara kebutuhan untuk menunjukkan kekuatan dan keinginan untuk menghindari gejolak yang dapat merugikan kampanyenya.
