Rencana ambisius pemerintah untuk mencapai Zero Over Dimension Over Load (ODOL) pada tahun 2027 menghadapi keraguan besar. Para pengamat transportasi menilai target tersebut berpotensi kembali gagal, dengan alasan utama minimnya kesiapan infrastruktur dan tingginya biaya logistik di Indonesia.
Menurut Pengamat Transportasi dari Forum Masyarakat Transportasi Indonesia (FMTI), Asep Junaidi, berbagai upaya sebelumnya untuk menekan angka ODOL selalu menemui jalan buntu. Ia menduga, kegagalan tersebut tidak terlepas dari akar masalah yang belum terselesaikan.
Asep Junaidi menjelaskan, salah satu kendala utama adalah kondisi infrastruktur jalan yang belum memadai untuk menampung kendaraan dengan beban sesuai standar. “Kita belum siap infrastrukturnya, jembatan, jalan, itu belum siap untuk menampung kendaraan yang muatannya sesuai dengan standar,” ujar Asep dalam keterangan tertulisnya.
Ia menambahkan, kondisi ini memaksa para pelaku logistik untuk tetap mematuhi ketentuan muatan yang ada, meskipun hal tersebut akan meningkatkan biaya operasional. Di sisi lain, jika muatan tetap berlebih, maka akan mempercepat kerusakan infrastruktur yang ada. “Kalau kita patuhi muatan sesuai standar, maka biaya logistik akan tinggi. Jika tidak, infrastruktur kita akan rusak,” tuturnya.
Lebih lanjut, Asep menyoroti tingginya biaya logistik di Indonesia yang menjadi faktor pendorong utama maraknya praktik ODOL. Ketiadaan sistem logistik yang efisien dan terintegrasi membuat biaya pengiriman barang menjadi sangat mahal. Hal ini kemudian mendorong para pemilik barang dan perusahaan ekspedisi untuk mencari cara agar biaya tersebut bisa ditekan, salah satunya dengan melakukan praktik ODOL.
“Biaya logistik di Indonesia itu memang tinggi sekali, jadi mau tidak mau para pemilik barang dan perusahaan ekspedisi cari cara agar biaya logistiknya bisa ditekan,” jelas Asep.
Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada penegakan hukum dan penindakan terhadap pelanggar ODOL, tetapi juga harus dibarengi dengan perbaikan infrastruktur dan efisiensi sistem logistik nasional. Tanpa langkah-langkah komprehensif tersebut, rencana Zero ODOL 2027 kemungkinan besar hanya akan menjadi retorika belaka dan sulit tercapai.
