Waspada Virus Powassan, Penyakit Langka Akibat Gigitan Kutu yang Mengancam Nyawa

Rini Widiyarti

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan peringatan terkait peningkatan kasus virus Powassan. Penyakit langka yang ditularkan melalui gigitan kutu ini dikenal sangat mematikan karena dapat menyebabkan pembengkakan otak atau ensefalitis.

Data CDC menunjukkan lonjakan kasus yang cukup signifikan pada tahun 2025 dengan total 76 kasus di Amerika Serikat. Angka ini meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan empat tahun sebelumnya. Secara kumulatif, sejak 2004 hingga 2025, tercatat 476 kasus dengan 63 di antaranya berakhir dengan kematian.

Hingga 30 Juni tahun ini, CDC telah mencatat 15 kasus infeksi. Sebarannya meliputi delapan kasus di Massachusetts, tiga di Wisconsin, dua di New York, serta masing-masing satu kasus di Pennsylvania dan New Hampshire.

Berbeda dengan penyakit Lyme yang membutuhkan waktu tempuh bakteri selama 16 hingga 24 jam, virus Powassan dapat berpindah ke inang manusia hanya dalam waktu 15 menit setelah kutu menempel. Kondisi ini membuat penularan menjadi jauh lebih cepat dan berbahaya.

Daniel Pastula, pakar penyakit neuro-infeksi dari University of Colorado Anschutz Medical Campus, menekankan bahwa virus ini menjadi sumber morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Banyak penderita mengalami komplikasi saraf berat seperti meningitis atau meningoensefalitis. Sekitar 10 persen dari kasus neuroinvasif ini berujung pada kematian.

Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk virus Powassan. Penanganan medis biasanya berfokus pada pengendalian rasa sakit, hidrasi, serta pemantauan ketat terhadap tekanan intrakranial bagi pasien dengan ensefalitis.

Penyebaran virus ini melibatkan tiga jenis kutu, yakni kutu marmut, kutu tupai, dan kutu rusa. Masa inkubasi virus berkisar antara satu hingga lima minggu dengan gejala awal berupa demam, sakit kepala, muntah, serta kelemahan fisik secara umum.

Pastula menyarankan pencegahan terbaik adalah dengan rutin memeriksa keberadaan kutu di tubuh. Terdapat kecenderungan kutu merayap mencari area kulit yang terlindungi untuk menggigit. Oleh karena itu, tindakan cepat untuk melepaskan kutu sangat krusial.

Masyarakat diimbau untuk menghindari area berumput tinggi, semak belukar, serta tumpukan daun kering. Selain itu, penggunaan pakaian berlengan panjang, celana panjang, serta cairan pengusir serangga berlisensi EPA sangat disarankan saat beraktivitas di luar ruangan.

Penting juga untuk melakukan pengecekan rutin pada hewan peliharaan yang sering bermain di luar rumah selama cuaca hangat. Meski penyebab pasti lonjakan kasus belum diketahui secara pasti, faktor perubahan iklim, pembangunan manusia, serta fragmentasi hutan dinilai menjadi pemicu utama.

Pastula mengingatkan bahwa kutu telah berevolusi selama jutaan tahun untuk menjadi predator yang efisien. Dengan mencegah gigitan kutu, risiko tertular virus Powassan dapat dihindari sepenuhnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All