Budaya minum kopi yang telah mendarah daging di masyarakat Indonesia sering kali menyimpan risiko kesehatan tersembunyi, terutama jika dicampur dengan gula berlebih. Menanggapi fenomena ini, tim dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) terjun langsung ke Puskesmas Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Sabtu (27/6/2026). Mereka menggelar edukasi mendalam bertajuk Konsumsi Minuman Kopi Bergula terhadap Risiko Terjadinya Diabetes Melitus dan Karies Gigi sebagai langkah nyata promotif dan preventif kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai dampak jangka panjang konsumsi gula harian. Fokus utama edukasi adalah membedah korelasi erat antara kebiasaan mengonsumsi kopi bergula dengan lonjakan kasus diabetes melitus serta kerusakan gigi akibat karies yang masih menjadi tantangan kesehatan serius di tanah air.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UWKS, Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes., menekankan bahwa keterlibatan institusi pendidikan tinggi sangat krusial dalam menyodorkan solusi berbasis bukti ilmiah. Menurutnya, edukasi yang tepat adalah kunci dalam mengubah perilaku hidup sehat masyarakat. Dengan memberikan pemahaman mengenai konsumsi gula yang bijak, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada terhadap potensi penyakit degeneratif maupun masalah kesehatan gigi yang sering dianggap sepele namun berdampak besar bagi kualitas hidup.
Kepala Puskesmas Batang-Batang, dr. Hj. Sulaiha Riningsih, M.Si., menyambut hangat kolaborasi lintas sektoral ini. Ia menilai sinergi antara FK UWKS dan puskesmas sebagai garda terdepan layanan kesehatan primer merupakan langkah strategis. Kemitraan ini tidak hanya memperkaya wawasan masyarakat, tetapi juga memperkuat kualitas layanan promotif yang tersedia di wilayah Sumenep.
Ketua tim pelaksana pengabdian masyarakat, Dr. Emillia Devi Dwi Rianti, S.Si., MT, memaparkan bahwa edukasi ini dirancang untuk membuka mata masyarakat mengenai bahaya terselubung dalam tren minuman kopi kekinian. Banyak dari minuman tersebut mengandung kadar gula yang melampaui batas aman konsumsi harian. Ketika gula masuk ke dalam tubuh secara berlebihan, kadar glukosa darah akan meningkat drastis dan memicu risiko diabetes melitus.
Selain dampak sistemik pada metabolisme tubuh, konsumsi gula juga memiliki efek lokal yang merusak rongga mulut. Sisa-sisa gula yang tertinggal di sela gigi setelah meminum kopi menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi bakteri penyebab karies. Tanpa dibarengi dengan praktik kebersihan mulut yang memadai, kerusakan gigi tidak dapat dihindari.
Dalam sesi penyuluhan, dr. Cahrles Kimura, M.KKK dan Dr. drg. Wike Herawaty, M.Kes., memberikan materi komprehensif bagi peserta. Mereka membedah tanda-tanda awal diabetes, bagaimana diabetes mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut, hingga tips praktis memilih pola konsumsi kopi yang lebih sehat. Peserta juga dipandu untuk mempraktikkan teknik menyikat gigi yang benar serta ditekankan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala untuk deteksi dini.
Suasana interaktif terlihat saat sesi diskusi dibuka. Peserta yang mayoritas merupakan pasien diabetes melitus sangat antusias menanyakan berbagai hal, mulai dari batasan konsumsi kopi yang aman, cara efektif mengendalikan kadar gula darah, hingga strategi pencegahan kerusakan gigi pada penyandang diabetes. Interaksi ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan informasi kesehatan yang valid dan mudah dipahami.
Puncak dari kegiatan ini adalah dilakukannya skrining kesehatan gigi dan pemeriksaan karies bagi 30 peserta. Sebanyak 28 orang di antaranya merupakan pasien diabetes melitus, sementara sisanya adalah warga non-diabetes. Pemeriksaan dilakukan oleh tim dokter gigi dari FK UWKS yang berkolaborasi dengan dokter gigi dari Puskesmas Batang-Batang serta didukung oleh tenaga analis kesehatan. Proses skrining ini menjadi bukti konkret upaya preventif untuk memetakan kondisi kesehatan peserta secara langsung.
Antusiasme warga di lokasi menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang turun langsung ke akar rumput sangat dinantikan. Para peserta berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara rutin, mengingat pentingnya deteksi dini dan pemahaman pola hidup sehat dalam menekan angka penyakit tidak menular.
Program pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan FK UWKS dalam mendukung penguatan layanan kesehatan primer. Dengan menggabungkan keahlian akademis dan praktik klinis, diharapkan angka kejadian penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus dan karies gigi, dapat ditekan secara signifikan melalui intervensi sejak dini.
Seluruh rangkaian kegiatan ini didanai melalui program hibah internal Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Tim pelaksana menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UWKS yang telah memberikan dukungan penuh dalam perencanaan hingga eksekusi kegiatan. Tak lupa, penghargaan juga diberikan kepada jajaran Puskesmas Batang-Batang atas kemitraan yang terjalin erat.
Selain Dr. Emillia Devi Dwi Rianti, tim pelaksana juga diperkuat oleh dr. Nugroho Eko W. B., S.H., M.Si., dr. Cahrles Kimura, M.KKK, Dr. drg. Wike Herawaty, M.Kes., dan Dr. Dra. Dorta Simamora, M.Si. Keterlibatan mahasiswa FK UWKS, yakni Keysha Amirah Hanny, Muhammad Collin, dan Bustanu Arifin, dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari implementasi kurikulum berbasis pengabdian masyarakat. Pengalaman lapangan ini diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang tanggap terhadap persoalan kesehatan di masyarakat.
Ke depannya, kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan primer di Sumenep ini diharapkan menjadi model percontohan bagi wilayah lain dalam upaya menanggulangi penyakit tidak menular. Dengan edukasi yang konsisten dan skrining yang tepat sasaran, masyarakat diharapkan lebih mandiri dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga dari ancaman penyakit yang dipicu oleh pola konsumsi yang tidak sehat.











