Friday, 28 August 2026
BREAKING
BERITA

Warga Gunungkidul Ubah Sampah Organik Jadi Cuan Lewat Budidaya Maggot

Oleh Emanuel August 28, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Di Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakatnya telah menemukan cara inovatif untuk mengubah sampah organik menjadi sumber pendapatan. Melalui praktik ekonomi sirkular, mereka sukses mengolah limbah dapur menjadi budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) dan pupuk organik yang bernilai ekonomis.

Program ini digagas oleh Kelompok Tani Ternak Makmur Sejahtera yang berlokasi di Padukuhan Duren, Desa Karangasem. Ketua kelompok, Agus Sriyanto, menjelaskan bahwa inisiatif ini dimulai sejak tahun 2020. Awalnya, tantangan besar dihadapi dalam pengelolaan sampah organik yang menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap. Namun, berkat pelatihan dan pendampingan dari berbagai pihak, termasuk Korem 072/Pamungkas Yogyakarta, solusi kreatif pun ditemukan.

“Kami awalnya dibantu oleh Korem 072/Pamungkas Yogyakarta untuk pelatihan budidaya maggot ini. Setelah itu kami terus berinovasi dan sekarang sudah mandiri,” ujar Agus Sriyanto pada Selasa (23/7/2024).

Prosesnya dimulai dari pengumpulan sampah organik dari rumah tangga warga. Sampah ini kemudian difermentasi selama satu hingga dua hari sebelum diberikan kepada larva maggot BSF. Setelah tumbuh menjadi maggot, mereka siap panen dan dijual. Maggot BSF ini memiliki nilai jual tinggi sebagai pakan alternatif yang kaya protein untuk ikan dan unggas. Selain itu, sisa metabolisme maggot, yang dikenal sebagai kasgot, diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik berkualitas.

Agus menambahkan bahwa harga maggot BSF saat ini berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Sementara itu, pupuk organik yang dihasilkan juga diminati oleh para petani. Keberhasilan ini tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga berkontribusi pada kebersihan lingkungan dan pengurangan volume sampah di Desa Karangasem.

“Dari satu ton sampah organik saja, bisa menghasilkan sekitar 150 kilogram maggot. Lumayan untuk menambah pemasukan warga,” jelas Agus. Ia berharap praktik ini dapat terus berkembang dan menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp