Viral Video Peserta Latsarmil Koperasi Bawa Senjata, Jenderal Dudung Abdurachman Beri Penjelasan

Heni Maulidya

Publik baru-baru ini dihebohkan dengan beredarnya rekaman video yang menampilkan sejumlah peserta Pelatihan Dasar Militer atau Latsarmil yang diselenggarakan oleh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dalam video yang viral di media sosial tersebut, tampak para peserta yang dipersiapkan sebagai calon manajer koperasi sedang menjalani latihan fisik dengan memegang senjata laras panjang layaknya personel militer aktif. Mereka terlihat melakukan baris-berbaris dan simulasi menembak, yang kemudian memicu berbagai pertanyaan dan spekulasi di kalangan masyarakat mengenai urgensi penggunaan senjata api dalam pelatihan bagi tenaga profesional koperasi.

Menanggapi keriuhan tersebut, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman angkat bicara. Saat ditemui di Sumedang pada Selasa, 30 Juni 2026, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini memberikan pandangan profesionalnya terkait pola pendidikan yang diterapkan dalam program tersebut. Menurut Dudung, apa yang terlihat dalam video itu sebenarnya merupakan bagian dari metode pelatihan berbasis militer yang memang memiliki karakteristik khusus dalam pengenalan senjata.

Dudung mengungkapkan bahwa pada awalnya ia pun sempat merasa heran saat pertama kali mengetahui adanya program Latsarmil yang menyasar kalangan calon manajer koperasi. Namun, setelah memahami konteks dan tujuan dari pendidikan tersebut, ia menyadari bahwa setiap satuan atau lembaga penyelenggara pelatihan memiliki standar operasional prosedur yang berbeda-beda dalam menggembleng kedisiplinan serta mentalitas peserta. Ia menekankan bahwa pendidikan dengan gaya militer sering kali melibatkan materi dasar pengenalan senjata sebagai sarana untuk membentuk karakter dan ketangguhan individu.

Saya juga seorang militer. Awalnya saya berpikir latihan model apa ini, namun setelah dicermati, masing-masing satuan ternyata punya cara latihan yang berbeda-beda. Saya juga sempat bertanya-tanya kok ada latihan seperti ini, tetapi perlu dipahami bahwa pendidikan militer itu secara umum memang memiliki pola-pola yang seperti itu, ujar Dudung memberikan klarifikasi.

Dalam pandangan purnawirawan jenderal bintang empat ini, pengenalan terhadap senjata merupakan materi yang lumrah dalam kurikulum pendidikan semi-militer. Penggunaan senjata dalam latihan tersebut bertujuan untuk mengenalkan peserta pada perangkat yang digunakan dalam simulasi militer, yang diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, fokus, dan tanggung jawab yang tinggi. Dudung menilai bahwa kegiatan yang dilakukan oleh peserta Latsarmil KDMP masih berada dalam koridor latihan militer yang terukur.

Pendidikan dasar militer bagi kalangan sipil atau profesional memang bukan hal yang sepenuhnya baru di Indonesia. Berbagai instansi dan organisasi kerap bekerja sama dengan unsur TNI untuk melaksanakan pelatihan yang bertujuan meningkatkan jiwa korsa, loyalitas, serta kemampuan manajerial di bawah tekanan. Meski demikian, keterlibatan senjata api dalam pelatihan non-militer sering kali menjadi sorotan publik karena menyangkut aspek keamanan dan regulasi penggunaan senjata yang ketat di tanah air.

Penggunaan senjata dalam pelatihan ini dipahami sebagai upaya untuk menanamkan kedisiplinan ala militer kepada para calon pengelola koperasi agar mereka memiliki ketahanan mental yang kuat saat terjun ke lapangan nantinya. Koperasi Desa Merah Putih sendiri diduga memiliki visi untuk menciptakan tenaga manajerial yang tidak hanya cakap dalam urusan ekonomi, tetapi juga memiliki kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan yang teruji.

Hingga saat ini, pihak penyelenggara Latsarmil KDMP belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai kurikulum pelatihan mereka secara mendetail. Namun, penjelasan dari Dudung Abdurachman setidaknya telah memberikan perspektif baru bagi masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kegiatan tersebut menyimpang dari norma pendidikan. Sebagai sosok yang memiliki rekam jejak panjang di militer, pernyataan Dudung menjadi rujukan penting dalam menenangkan opini publik yang sempat mempertanyakan legalitas serta relevansi penggunaan senjata tersebut.

Secara sosiologis, fenomena pelatihan militer bagi kalangan sipil sering kali dipandang sebagai metode efektif untuk membangun sinergi antara kemampuan teknis dan ketangguhan mental. Bagi para peserta, pengalaman mengikuti Latsarmil diharapkan dapat mengubah cara pandang mereka dalam mengelola tantangan di dunia profesional, terutama dalam mengelola organisasi koperasi yang membutuhkan integritas tinggi. Di sisi lain, pemerintah melalui otoritas terkait diharapkan terus melakukan pengawasan agar setiap pelatihan yang menggunakan atribut militer tetap berjalan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu melihat suatu persoalan dari berbagai sisi sebelum memberikan penilaian. Penjelasan yang diberikan oleh Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa pendidikan militer memiliki standar tersendiri yang mungkin terlihat asing bagi masyarakat awam, namun memiliki tujuan pembentukan karakter yang terstruktur. Hingga berita ini diturunkan, situasi di lapangan terkait pelaksanaan Latsarmil KDMP dilaporkan tetap berjalan dengan kondusif tanpa ada gangguan keamanan yang berarti.

Ke depannya, publik berharap agar setiap program pelatihan yang melibatkan unsur militer dapat dilakukan dengan transparansi yang lebih baik guna menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat. Kehadiran tokoh militer senior seperti Dudung Abdurachman dalam memberikan klarifikasi memberikan bobot yang signifikan terhadap legitimasi kegiatan tersebut, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai perbedaan antara latihan militer profesional dengan simulasi yang diterapkan pada instansi sipil atau organisasi kemasyarakatan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All