Wasit Video Assistant Referee (VAR) asal Australia, Shaun Evans, akan kembali bertugas dalam pertandingan Piala Dunia 2026, menandai kembalinya ia setelah sempat menjadi sorotan akibat gestur tangan yang kontroversial. Evans dijadwalkan mendampingi Mohammed Khamid sebagai asisten VAR dalam laga Grup G antara Selandia Baru melawan Mesir yang akan digelar pada Minggu (atau Senin dini hari WIB) di Vancouver.
Penunjukan ini merupakan kali pertama bagi Evans sejak investigasi FIFA yang berlangsung sebelumnya memutuskan bahwa ia tidak bersalah atas dugaan gestur tangan yang tidak pantas. Insiden tersebut terekam kamera televisi sesaat sebelum pertandingan antara Jerman melawan Curacao yang berakhir dengan kemenangan telak Jerman 7-1. Saat itu, Evans yang berusia 38 tahun terlihat membuat gerakan dengan jari-jari tangan kanannya menyerupai tanda "OK" terbalik, ketika siaran televisi memotong ke arah tim VAR di pusat kendali wasit di Dallas.
Gerakan yang tampak tersebut menimbulkan spekulasi luas di media sosial karena memiliki asosiasi dengan simbol supremasi kulit putih. Namun, Evans dengan tegas membantah melakukan gestur tersebut secara sengaja. Ia menyatakan bahwa gerakan itu adalah "kedutan yang tidak disengaja dan bersifat sub-sadar," serta menyangkal adanya niat untuk "mengkomunikasikan pesan, afiliasi, permainan, atau keyakinan apa pun."
Badan sepak bola dunia, FIFA, setelah melakukan peninjauan mendalam, mengumumkan bahwa mereka tidak menemukan bukti pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA. Pernyataan resmi FIFA yang dikeluarkan pada hari Senin menegaskan bahwa investigasi telah selesai dan Evans tidak akan dikenakan tindakan apa pun. Hal ini disambut baik oleh Evans, yang menyatakan bahwa liputan pasca-insiden tersebut tidak mencerminkan dirinya yang sebenarnya.
"Tentu saja, saya memahami bagaimana gestur tersebut diartikan dan saya menyesalinya," ujar Evans dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh FIFA. "Namun, saya ingin sangat jelas dan menyatakan secara kategoris bahwa saya tidak secara sadar atau sengaja membuat simbol tangan yang disarankan."
Evans lebih lanjut menjelaskan bahwa bukti video dari ruang VAR membuktikan bahwa gerakan yang dilakukannya bersifat tidak disengaja. Ia menambahkan bahwa rekaman pertandingan yang diambil kemudian menunjukkan ia mengulang gerakan tersebut berkali-kali sambil memegang pena di antara jari-jarinya. "Memimpin pertandingan di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya, dan saya berharap dapat mendukung rekan-rekan saya di sisa turnamen ini," tambahnya.
Sebelumnya, FIFA memang memiliki kebiasaan untuk memberikan sorotan singkat kepada para ofisial pertandingan sebagai bagian dari liputan global mereka sebelum kick-off. Biasanya, sebelum pertandingan dimulai, wasit utama dan timnya akan berjalan ke pinggir lapangan, dan sebuah grafis yang menampilkan nama serta peran mereka akan ditampilkan. Setelah itu, kamera akan beralih ke tim VAR di pusat kendali wasit di Dallas.
Dalam format liputan ini, alih-alih menunjukkan mereka sedang bekerja dan memantau layar, para ofisial VAR juga sempat berpose sebentar untuk kamera, dengan nama mereka muncul di layar. Ketika kamera menyorot ruang VAR sebelum pertandingan Jerman-Curacao, Evans terlihat berdiri dengan lengan di samping tubuhnya, dan kemudian terlihat membuat gestur tangan yang menjadi kontroversi.
Perubahan signifikan dalam pendekatan ritual pra-pertandingan terlihat setelah laga Jerman-Curacao. Dalam pertandingan-pertandingan berikutnya, ketika pusat kendali VAR ditayangkan, para ofisial terlihat sudah menghadap monitor mereka. Penonton tidak lagi melihat mereka melihat ke arah kamera, meskipun nama mereka tetap ditampilkan. Perubahan ini diduga merupakan respons terhadap insiden yang melibatkan Evans, demi menghindari kesalahpahaman atau interpretasi negatif di masa mendatang.
Kembalinya Shaun Evans ke tugas VAR di Piala Dunia 2026 ini menunjukkan bahwa FIFA telah menyelesaikan proses investigasi dan memberikan kepercayaan kembali kepada wasit tersebut. Pengalaman ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam setiap tindakan, terutama di bawah sorotan publik global. FIFA terus berupaya menjaga integritas dan objektivitas dalam setiap keputusan wasit, baik di lapangan maupun melalui teknologi pendukung seperti VAR. Penunjukan Evans kembali menegaskan bahwa ia masih dianggap sebagai ofisial yang kompeten dan dipercaya untuk menjalankan tugasnya di salah satu panggung sepak bola terbesar dunia.











