Sejarah baru tercipta untuk sepak bola Asia Tengah. Untuk pertama kalinya, bendera Uzbekistan akan berkibar di panggung Piala Dunia setelah mereka memastikan satu tempat di edisi 2026. Momen bersejarah ini diraih pada 5 Juni 2025 melalui hasil imbang tanpa gol melawan Uni Emirat Arab, memicu euforia luar biasa di Tashkent dan seluruh negeri.
Tim berjuluk "Serigala Putih" ini bukanlah kekuatan tradisional sepak bola global, namun kelolosan ke Piala Dunia adalah impian yang telah lama terpendam. Perjalanan mereka diwarnai berbagai drama dan kekecewaan, membuat pencapaian kali ini terasa jauh lebih manis. Uzbekistan sempat mendapat julukan "nyaris juara" sepak bola Asia karena berulang kali gagal lolos ke Piala Dunia di ambang pintu. Namun, semua catatan masa lalu kini bisa dihapus seiring langkah mereka di turnamen akbar tersebut.
Sebelum melakoni laga perdana Grup K melawan Kolombia, pakar sepak bola Uzbekistan, Conor Bowers, kepada BBC Sport menilai bahwa signifikansi kelolosan ini setara dengan kemenangan Piala Dunia bagi negara-negara seperti Inggris. "Uzbekistan secara historis selalu menjadi tim ‘nyaris juara’ di Asia, kehilangan kesempatan sebelumnya karena keputusan wasit yang kontroversial pada kualifikasi Piala Dunia 2006 dan kegagalan yang disebabkan diri sendiri menjelang Piala Dunia 2022," ungkap Bowers. Ia menambahkan bahwa kesuksesan ini sudah mulai memberikan dampak nyata di dalam negeri, dengan munculnya klub-klub baru dan bangkitnya klub yang sempat mati suri, bahkan meningkatkan jumlah klub profesional di Uzbekistan sebesar 36% antara tahun 2025 hingga 2026 saja.
Ditarik dalam grup yang dihuni Portugal, Kolombia, dan debutan lainnya, Republik Demokratik Kongo, ekspektasi terhadap Uzbekistan tentu saja meningkat. Namun, Bowers menegaskan, "Target utama adalah lolos. Apapun yang lebih dari itu akan dianggap sebagai bonus tambahan."
Perjalanan Menuju Panggung Dunia: Bukan Jalan Pintas
Kisah kelolosan Uzbekistan bukanlah cerita sukses instan. Pada kualifikasi Piala Dunia 2006, saat Uzbekistan berada di peringkat 45 FIFA, lima peringkat di bawah posisi mereka saat ini, mereka secara kontroversial kalah dalam dua leg playoff antarbenua melawan Bahrain. Kemenangan tandang 1-0 di leg pertama harus diulang karena wasit salah memberikan tendangan bebas untuk tim tamu ketika penyerang Uzbekistan melakukan pelanggaran saat rekan setimnya mengambil penalti.
Pertandingan ulang berakhir imbang 1-1, dan leg kedua di kandang lawan juga berkesudahan 0-0, yang berarti Uzbekistan kalah produktivitas gol tandang. Pengalaman pahit ini takkan pernah terlupakan oleh para pendukungnya. Empat tahun kemudian, pada kualifikasi Piala Dunia 2014, Uzbekistan gagal lolos karena kalah selisih gol dari Korea Selatan. Pada 2018, mereka hanya tertinggal dua poin dari tiket ke Rusia, kembali Korea Selatan yang menjadi batu sandungan setelah kedua tim bermain imbang 0-0 di Tashkent pada laga pamungkas grup.
Tak heran jika momen kelolosan ke Piala Dunia 2026 disambut dengan kegembiraan yang meluap. Namun, euforia tersebut merupakan cerminan dari kemajuan pesat sepak bola Uzbekistan dalam satu dekade terakhir. "Kelolosan ke Piala Dunia bukanlah cerita sukses semalam, melainkan buah dari rencana pengembangan jangka panjang untuk meningkatkan standar sepak bola Uzbekistan secara keseluruhan," jelas Bowers.
Ia memaparkan, standar baru dalam hal fasilitas stadion, kepelatihan, pembukaan akademi Asosiasi Sepak Bola Uzbekistan di berbagai wilayah, serta pengembangan pemain usia muda telah meningkatkan tingkat profesionalisme dalam sepak bola domestik. Dampak positif ini berimbas pada kesuksesan awal di level junior, termasuk menjadi juara Piala Asia U-17 dan U-20, lolos ke Olimpiade, serta mencapai berbagai final dan semifinal di level kontinental untuk tim usia muda. Asosiasi Sepak Bola Uzbekistan juga telah meresmikan pusat pelatihan nasional di luar Tashkent, yang konsepnya serupa dengan St. George’s Park di Inggris, untuk menyediakan fasilitas latihan berstandar tinggi bagi tim nasional di semua tingkatan.
Dari Gaya Rambut Ikonik hingga Menjelma Bintang Baru
Perjalanan Uzbekistan juga tak lepas dari kehadiran sosok-sosok inspiratif. Jika era sebelumnya diidentikkan dengan Server Djeparov, pemain legendaris yang dua kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Asia dan dikenal dengan gaya rambut mulletnya, kini muncul bintang baru, Abdukodir Khusanov. Bek muda yang direkrut Manchester City pada Januari 2025 dari Lens dengan mahar 34 juta Poundsterling ini, meski baru berusia 20 tahun saat itu, dengan cepat menjelma menjadi wajah sepak bola Uzbekistan di kancah global.
Khusanov, kini berusia 21 tahun, telah memberikan dampak besar bagi tim nasional. Pindah ke klub sekelas Manchester City di era media sosial yang masif dan jangkauan sepak bola Inggris yang mendunia, membuatnya dibandingkan dengan David Beckham di awal tahun 2000-an. "Bangkitnya Khusanov dari Minsk ke Manchester sungguh luar biasa. Dampaknya bagi sepak bola Uzbekistan, mengingat usianya, sulit diukur," kata Bowers. Ia menambahkan bahwa meskipun Uzbekistan pernah memiliki pemain yang bermain di klub Eropa besar seperti AS Roma dan Dynamo Kyiv, citra Khusanov di era modern menjadikannya idola baru bagi generasi muda.
Dampak positif ini sudah mulai terasa. Sejumlah pemain Uzbekistan mulai mendapat tawaran uji coba atau bergabung dengan klub-klub Eropa terkemuka di liga-liga kuat seperti Belgia dan Portugal. Penyerang Uzbekistan, Jaloliddin Masharipov, berbagi pengalaman tentang popularitas Khusanov di negaranya. "Dia adalah orang Uzbekistan pertama yang bermain di Premier League. Semua penggemar mencintainya sekarang, tapi mereka juga mencintai semua pemain timnas. Setiap kali keluar, pergi ke restoran, orang-orang minta foto. Di restoran, Anda tidak perlu bayar. Itu rasa hormat yang diberikan di sini," ujarnya kepada BBC World Service.
Cannavaro Membawa Pengalaman untuk Tantangan Baru
Sejak mewujudkan mimpi Piala Dunia, terjadi perubahan signifikan dalam skuad Uzbekistan. Legenda Italia dan kapten juara Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro, kini dipercaya memimpin timnas menuju turnamen akbar tersebut. Cannavaro mengambil alih kursi kepelatihan dari Timur Kapadze pada Oktober 2025. Kehadirannya diharapkan membawa pengalaman internasional, kecerdasan taktis, dan wibawa yang dibutuhkan Uzbekistan dalam menghadapi kompetisi level tertinggi.
"Saya ingin para pejuang," tegas Cannavaro usai memimpin timnya menang 3-1 atas Gabon dalam laga persahabatan di Stadion Milliy yang penuh sesak pada jeda internasional Maret lalu. "Saya ingin intensitas tinggi, selalu. Itu kuncinya bagi saya, memiliki petarung. Kami akan pergi ke Piala Dunia untuk menghadapi tim-tim top, dan jika ada yang menganggapnya mudah, mereka salah. Ini adalah pertama kalinya Uzbekistan di Piala Dunia, dan kami akan menghadapi siapapun tanpa rasa takut."
Bowers menambahkan, meski awalnya sempat dianggap sebagai pilihan yang kurang memuaskan untuk menggantikan Kapadze yang populer, Cannavaro telah menunjukkan dedikasi tinggi. Ia kerap terlihat di pertandingan Liga Super Uzbekistan, bertemu dengan pemain Uzbekistan yang bermain di luar negeri, dan telah menggelar beberapa pemusatan latihan. "Saya percaya ia akan membawa pengalamannya dari timnas Italia, gaya manajemennya yang fleksibel namun pragmatis, serta semangatnya dalam peran ini, idealnya akan memungkinkan Uzbekistan bermain sebaik mungkin di setiap pertandingan," harap Bowers.
Menuju Masa Depan yang Lebih Cerah
Mencapai Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim memang menjadi target utama Uzbekistan. Namun, Bowers menekankan bahwa fokus ke depan seharusnya adalah konsistensi dalam lolos ke turnamen ini. "Uzbekistan seharusnya menjadikan Piala Dunia ini sebagai yang pertama dari banyak Piala Dunia, dan idealnya menjadi negara Asia yang langganan tampil di turnamen seperti Jepang dan Korea Selatan," ujarnya.
Di level usia muda, Uzbekistan secara konsisten menjadi salah satu tim terkuat di berbagai turnamen, meskipun seringkali mengirimkan skuad yang relatif lebih muda dibandingkan pesaingnya. Dengan perkembangan positif di dalam negeri, kebangkitan pemain seperti Khusanov, dan hilangnya beban mental karena berhasil lolos, Bowers optimis. "Saya rasa ini tidak akan menjadi yang terakhir kali dunia melihat Uzbekistan di Piala Dunia," tutupnya.











