UI Unggul di Kancah Global: Forum Strategis Dorong Ekosistem Talenta Unggul

Darus H

Universitas Indonesia (UI) menegaskan komitmennya untuk memajukan ekosistem talenta Indonesia agar berdaya saing di panggung global. Melalui penyelenggaraan Employer Forum 2026 bertajuk "Beyond Borders – The Next-Gen Talent Ecosystem for a World-Class Indonesia", UI berupaya memperkuat sinergi antara institusi pendidikan tinggi, jaringan alumni, dan sektor industri. Acara strategis ini digelar di Sutasoma Hotel, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 Juni 2026, menjadi platform dialog untuk menyelaraskan kebutuhan industri dengan kurikulum pendidikan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menekankan peran krusial perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi dinamika dunia kerja yang kian kompetitif. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi merupakan aset bangsa yang esensial untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional, tidak hanya dari aspek ekonomi tetapi juga dalam mendukung kepentingan diplomasi dan geopolitik. Fauzan berharap UI dapat menjadi pelopor dalam melahirkan profesional bertaraf internasional.

"Kampus perlu membangun kurikulum dan program yang lebih dekat dengan kebutuhan industri melalui kemitraan yang kuat dengan dunia usaha," ujar Fauzan. Ia menambahkan bahwa kolaborasi erat antara akademisi dan praktisi industri adalah kunci untuk menciptakan lulusan yang relevan dan siap pakai.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI, Ahmad Gamal, sejalan dengan pandangan tersebut. Employer Forum dipandang sebagai ruang dialog yang vital untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan proses pengembangan talenta di perguruan tinggi. Reputasi sebuah universitas kini tidak lagi hanya diukur dari prestasi akademik semata, melainkan juga dari kualitas karier dan kontribusi alumni.

"Artinya, bagaimana lulusan berkarier dan berkontribusi setelah lulus turut menentukan bagaimana sebuah universitas dinilai secara global," jelas Gamal. UI berupaya memastikan lulusannya tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki kompetensi yang diakui dunia internasional.

Berdasarkan survei internal UI, sekitar 71,3 persen lulusannya berhasil mendapatkan pekerjaan dalam kurun waktu tiga bulan pasca kelulusan. Menariknya, 28,3 persen dari mereka telah meniti karier di perusahaan atau organisasi internasional. Namun, Gamal mengakui masih adanya kesenjangan kompetensi, terutama pada aspek non-teknis. Kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, kolaborasi lintas budaya, dan integritas menjadi area yang perlu terus ditingkatkan.

Untuk mengatasi tantangan ini, Gamal menekankan pentingnya kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, alumni, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem talenta yang lebih solid dan responsif terhadap perubahan global.

Peran alumni yang telah menorehkan prestasi di kancah internasional juga menjadi sorotan. Managing Director Global Relations & Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, menyoroti bagaimana perkembangan teknologi dan digitalisasi telah meruntuhkan batas-batas geografis dalam dunia kerja. Ia berpendapat bahwa UI dan universitas lainnya harus mampu membangun ekosistem talenta yang terhubung secara global, selaras dengan ambisi Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045.

"Kita harus menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan dunia industri. Kesenjangan tersebut masih terlalu besar bagi Indonesia," tegas Al-Arief. Ia menekankan perlunya upaya ekstra untuk memastikan lulusan siap bersaing di pasar kerja global yang dinamis.

Dalam forum tersebut, diskusi panel bertajuk "World-Class Indonesia" menghadirkan para pakar dari berbagai sektor, termasuk hukum, industri, kesehatan, dan teknologi. Mereka membahas secara mendalam kompetensi krusial yang dibutuhkan talenta Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.

Dari sektor hukum, Partner dan Co-Founder Dentons HPRP, Andra Rahadian, yang juga merupakan alumnus UI, menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan lintas disiplin. Kecakapan dalam mengelola kompleksitas dan membangun kepercayaan menjadi aset berharga di organisasi global. Spesialisasi saja tidak lagi cukup, melainkan kemampuan memahami berbagai kemungkinan dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

"Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami berbagai kemungkinan dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian," ungkap Andra. Kemampuan analitis dan strategis menjadi kunci sukses di era modern.

Senada dengan itu, Corporate Affairs PT Fast Retailing Indonesia (Uniqlo Indonesia), Irma Yunita, menyatakan bahwa perusahaan global tidak hanya terpaku pada prestasi akademik. Karakter, kemampuan belajar yang berkelanjutan, kepemimpinan, adaptasi, dan kolaborasi menjadi aspek yang sangat diperhatikan. Perusahaan multinasional seperti Uniqlo membutuhkan talenta yang memahami standar internasional sekaligus mampu membaca nuansa pasar dan budaya lokal.

"Karakter, kemampuan belajar, kepemimpinan, kolaborasi, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi aspek yang sangat kami perhatikan," ujar Irma. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi adalah kunci bagi talenta yang bekerja di lingkungan global.

Dari ranah kesehatan, Dokter Spesialis Gizi Klinik Nadhira Afifa menyoroti pentingnya keberanian dalam mengambil peluang, kemampuan beradaptasi, dan keinginan untuk terus berkembang. Ia berargumen bahwa kualitas-kualitas ini memungkinkan talenta Indonesia melampaui keterbatasan latar belakang dan bersaing di tingkat global. Nadhira membagikan pengalamannya yang tumbuh di Bekasi Utara dengan akses terbatas namun berhasil menempuh pendidikan di UI hingga Harvard University.

"Masuk ke sekolah atau universitas terbaik memang sesuatu yang baik. Namun itu bukan tujuan akhir. Itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar," tuturnya. Pengalamannya menjadi inspirasi bahwa tekad dan kemauan berkembang dapat membuka pintu kesempatan luas.

Sementara itu, Enterprise and Public Sector Director Google Cloud Indonesia, Adir Ginting, menggarisbawahi kesiapan Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan (AI). Ia melihat peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global jika mampu menghasilkan talenta yang tidak hanya pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi.

"Perubahan teknologi bergerak secara eksponensial, sementara banyak sistem pendidikan masih berkembang secara linear," kata Adir. Ia menekankan perlunya penyesuaian sistem pendidikan agar sejalan dengan laju perkembangan teknologi yang pesat.

Adir menambahkan bahwa Indonesia seringkali menghadapi tantangan yang tidak hanya terkait infrastruktur fisik, seperti pusat data dan jaringan internet, tetapi juga pola pikir dan kedisiplinan dalam memanfaatkan teknologi secara produktif. Untuk itu, penguatan ekosistem talenta digital menjadi prioritas.

Secara keseluruhan, Employer Forum 2026 menegaskan bahwa kemajuan Indonesia sangat bergantung pada pembentukan ekosistem talenta yang terhubung dengan kebutuhan global. Penguasaan kompetensi teknis harus diimbangi dengan pengembangan karakter yang kuat, kemampuan adaptasi yang tinggi, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi perubahan yang kian cepat di berbagai sektor. Sinergi antara perguruan tinggi, alumni, industri, dan pemerintah menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia yang berdaya saing global.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All