Badan sepak bola Eropa, UEFA, menunjukkan persatuan yang langka namun rapuh dalam menghadapi FIFA terkait rencana penjualan hak komersial Piala Dunia. Sikap tegas ini diambil setelah keputusan besar pada Kamis lalu, yang menyatakan boikot terhadap turnamen FIFA jika Presiden Gianni Infantino tidak membatalkan rencana investasi swasta.
Sebuah sumber eksekutif senior UEFA menyebut persatuan tersebut sebagai “sangat bulat,” sebuah ungkapan yang jarang terdengar ketika asosiasi sepak bola Eropa membahas isu krusial. Persatuan berskala ini sangat jarang terjadi, dan kini ada celah sempit untuk memanfaatkannya.
Menanggapi hal ini, FIFA justru mempertegas proposalnya dengan “klarifikasi” yang menyalahkan media atas terganggunya “proses konsultasi” sebuah skema yang disusun secara tertutup. FIFA tidak memberikan indikasi akan mengubah tenggat waktu 19 September untuk mengesahkan proposal Fifa Forward Enterprise (FFE). Meskipun banyak pihak mempertanyakan urgensi ini, UEFA dan sekutunya tidak boleh membiarkan tujuh minggu ke depan berlalu tanpa tindakan.
Rencana FIFA untuk menjual hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta telah memicu kekhawatiran serius di kalangan federasi Eropa. Proposal ini, yang kabarnya dirancang di balik layar, dianggap mengancam integritas dan masa depan sepak bola global. FIFA berdalih bahwa pendapatan dari investasi ini akan digunakan untuk pengembangan sepak bola di seluruh dunia.
Namun, UEFA melihatnya sebagai langkah yang berisiko dan berpotensi merusak. Kekhawatiran utama meliputi hilangnya kendali atas aset paling berharga dalam sepak bola, potensi komersialisasi yang berlebihan, serta dampak jangka panjang terhadap struktur tata kelola sepak bola internasional. Persatuan UEFA ini menandakan penolakan kolektif terhadap pendekatan FIFA yang dianggap terburu-buru dan kurang transparan.
Langkah boikot yang diancamkan UEFA bukan tanpa risiko. Namun, ini menunjukkan keseriusan Eropa dalam mempertahankan prinsip-prinsip yang mereka yakini penting bagi keberlanjutan sepak bola. Tekanan dari Eropa ini diharapkan dapat memaksa FIFA untuk mempertimbangkan kembali strateginya dan membuka dialog yang lebih konstruktif dengan seluruh pemangku kepentingan.
