Kisah sukses Gobel Group bermula dari sebuah pemandangan pilu di pinggiran Sungai Ciliwung, Jakarta. Thayeb Mohammad Gobel, seorang petinggi di perusahaan percetakan Fasco, kerap merenung melihat kemiskinan yang kontras dengan kehidupannya yang mapan. Kenangan masa kecilnya di Tolotio, Gorontalo, di mana ia pernah belajar berdagang pisang, kembali membakar semangatnya untuk menjadi seorang saudagar.
Keinginan Thayeb untuk mandiri membawanya pada serangkaian tantangan berat. Meski sempat memegang jabatan mentereng, ia nekat melepas pekerjaannya demi mengejar mimpi sebagai pengusaha. Perjalanan awal tidaklah mudah. Berbagai bidang bisnis, mulai dari mebel, perdagangan motor, hingga logistik laut, sempat ia geluti namun berakhir dengan kegagalan. Ia bahkan sempat merasakan pahitnya menjadi pengangguran yang harus berjalan kaki di kawasan Kota Tua demi mencari peluang kerja.
Titik balik kehidupan Thayeb terjadi saat ia bergabung dengan NV Behring di Jalan Pinangsia. Di perusahaan perakitan radio tersebut, ia mempelajari seluk-beluk industri elektronik. Pengalaman ini mematangkan visinya untuk tidak sekadar berdagang, melainkan membangun industri sendiri. Pada 1954, ia mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing di Cawang, yang kelak melahirkan Radio Tjawang, sebuah merek legendaris kebanggaan masyarakat Indonesia.
Kesuksesan Thayeb semakin bersinar setelah bertemu Konosuke Matsushita di Jepang pada 1957. Pertemuan itu membuahkan kemitraan strategis pada 1960. Produk mereka pun menjadi primadona, termasuk saat memproduksi 10.000 unit televisi hitam-putih untuk perhelatan Asian Games 1962. Presiden Soekarno bahkan sempat memanggil Thayeb karena kagum dengan radio transistor Tjawang yang mampu menjangkau desa-desa terpencil tanpa aliran listrik.
Kini, di usia ke-70 tahun, Gobel Group telah bertransformasi menjadi konglomerasi besar dengan 18.000 karyawan. Perusahaan ini bergerak di empat lini bisnis utama: elektronik dan manufaktur, perdagangan dan layanan, makanan dan perhotelan, serta properti dan infrastruktur. Fondasi yang dibangun Thayeb kini dilanjutkan oleh putra pertamanya, Rachmat Gobel, yang terus menjaga visi dan filosofi usaha sang ayah.
Keberhasilan regenerasi kepemimpinan ini menjadi bukti bahwa Gobel Group mampu melampaui tantangan suksesi yang kerap mematikan perusahaan keluarga. Dengan tata kelola yang kuat dan adaptasi zaman, warisan Thayeb Mohammad Gobel terus berkontribusi bagi ekonomi Indonesia. Perjalanan panjang ini menjadi inspirasi bagaimana sebuah mimpi besar, jika disertai kegigihan dan visi yang tepat, mampu mengubah nasib bangsa sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.











