Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pada Sabtu (22/6/2019) bahwa ia memutuskan untuk menunda serangan balasan militer terhadap Iran. Keputusan ini diambil setelah AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang diduga melanggar wilayah udara internasional di Selat Hormuz pada Kamis (20/6/2019). Trump menyatakan bahwa penundaan ini merupakan langkah untuk memberikan kesempatan bagi upaya diplomasi.
Keputusan mendadak Trump ini disampaikan melalui cuitan di akun Twitter pribadinya. “Saya menghentikan sementara serangan ke Iran setelah saya diberitahu bahwa 150 orang kemungkinan akan terbunuh, sebagai respons terhadap drone yang ditembak jatuh kemarin,” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut tidak proporsional dengan jatuhnya drone tersebut. Trump menegaskan bahwa AS masih memiliki banyak pilihan strategis yang siap digunakan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam pasca insiden penembakan drone. Iran bersikeras bahwa drone mereka ditembak jatuh di wilayah udaranya, sementara AS menyatakan drone tersebut berada di atas perairan internasional. Kejadian ini semakin memperburuk hubungan kedua negara yang sudah memburuk sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada Mei 2018 dan memberlakukan sanksi ekonomi yang ketat.
Meskipun menunda serangan, Trump tetap memberikan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa jika negosiasi diplomatik yang diharapkan tidak membuahkan hasil, Amerika Serikat akan kembali melanjutkan aksi militer. Trump sebelumnya telah mengindikasikan bahwa serangan balasan akan dilakukan sebagai respons terhadap jatuhnya drone tersebut, namun kini ia mengubah arah kebijakan tersebut.
Trump juga menyatakan bahwa ia menghargai percakapan yang terjadi dengan para penasihatnya mengenai situasi ini. Ia menyarankan agar Iran tidak melakukan kesalahan strategis dengan menembak jatuhkan drone lagi. “Mereka tidak boleh melakukan kesalahan seperti itu lagi,” tegasnya.
Keputusan Trump untuk menunda serangan ini disambut baik oleh beberapa pihak yang mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, situasi tetap tegang dan membutuhkan perhatian diplomatik yang cermat untuk mencegah konflik yang lebih luas.
