Fenomena tren foto gaya 1980-an yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) tengah ramai diperbincangkan. Namun, di balik kemeriahan visual nostalgia tersebut, terselip kekhawatiran signifikan terkait dampaknya terhadap lingkungan. Penggunaan teknologi AI untuk memproses dan menghasilkan gambar-gambar unik ini ternyata berkontribusi pada peningkatan konsumsi energi, yang secara tidak langsung memperparah pemanasan global.
Tren ini menjadi populer setelah banyak pengguna media sosial, termasuk influencer seperti Anya Geraldine, membagikan hasil foto mereka yang diedit menyerupai gaya era 80-an menggunakan aplikasi berbasis AI. Aplikasi seperti Lensa AI, yang mampu mengubah foto selfie menjadi potret artistik dengan berbagai gaya, termasuk gaya 80-an, menjadi salah satu primadona.
Dampak lingkungan dari tren ini muncul dari proses komputasi yang dibutuhkan oleh sistem AI. Pelatihan model AI, seperti yang digunakan pada aplikasi pengolah gambar, memerlukan daya komputasi yang sangat besar. Server-server pusat data yang menjalankan proses ini mengonsumsi energi listrik dalam jumlah masif. Sebagian besar energi listrik ini masih berasal dari sumber yang tidak terbarukan, seperti batu bara, yang menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) sebagai produk sampingan.
Menurut sebuah studi yang dirilis oleh peneliti dari University of Massachusetts Amherst, seperti dikutip oleh The Guardian, sebuah model AI besar bisa menghasilkan emisi karbon yang setara dengan lima mobil selama masa pakainya. Angka ini cukup mengkhawatirkan mengingat semakin banyaknya aplikasi AI yang digunakan masyarakat luas untuk berbagai keperluan, termasuk tren foto seperti ini. Semakin banyak permintaan untuk memproses gambar menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan daya komputasi, dan konsekuensinya, semakin tinggi pula jejak karbon yang dihasilkan.
Teknologi AI, termasuk yang digunakan untuk menghasilkan tren foto 80-an, beroperasi melalui proses yang intensif energi. Ketika pengguna mengunggah foto dan meminta AI untuk mengeditnya, jutaan hingga miliaran perhitungan matematis dilakukan di pusat data. Infrastruktur pusat data ini membutuhkan energi listrik yang besar untuk menjalankan server, sistem pendingin, dan perangkat keras lainnya. Jika sumber energi yang digunakan untuk mengoperasikan pusat data ini masih bergantung pada bahan bakar fosil, maka emisi gas rumah kaca, terutama CO2, akan meningkat.
Para ahli mengingatkan bahwa tren teknologi yang membutuhkan daya komputasi tinggi, seperti AI generatif yang sedang populer, perlu diimbangi dengan kesadaran akan jejak lingkungan yang ditimbulkannya. Meskipun tren foto 80-an ini mungkin tampak sepele, akumulasi dari berbagai aktivitas digital yang membutuhkan energi besar dapat memberikan tekanan tambahan pada upaya global untuk memerangi perubahan iklim. Oleh karena itu, penting bagi pengembang teknologi dan pengguna untuk mempertimbangkan keberlanjutan dalam pengembangan dan pemanfaatan AI di masa depan.
