Kolaborasi strategis telah terbukti menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di balik dinding sebuah bengkel di Karangasem, Bali, kisah inspiratif Bengkel Autotama membuktikan bagaimana sinergi dapat menciptakan simpul ekonomi yang kuat, tidak hanya bagi pemiliknya tetapi juga bagi puluhan pelaku usaha kecil lainnya di Pulau Dewata.
Memasuki Bengkel Autotama, pengunjung akan menemukan pengalaman yang jauh berbeda dari citra bengkel konvensional yang identik dengan oli dan kotor. Di tempat milik I Wayan Sutama (51) ini, kebersihan, kerapian, dan bahkan aroma wangi menjadi prioritas utama. Dengan tiga area tunggu yang nyaman—dua di lantai dasar dan satu di atap—bengkel ini menawarkan suasana yang modern dan ramah pelanggan.
Saat menunggu mobil diservis, para pelanggan dapat menikmati hidangan khas lokal. Di sudut kafe dalam bengkel, Made Suwadnyana tampak sibuk meracik Kopi Bubuk Sari Jasri, kopi khas Karangasem hasil olahan kelompok UMKM-nya. Tidak hanya kopi, meja-meja di ruang tunggu juga dipenuhi aneka makanan ringan produksi UMKM sekitar Karangasem, mulai dari keripik pisang, cokelat Bali, hingga jamu tradisional, semuanya menonjolkan kekayaan produk lokal.
Inisiatif ini bukanlah kebetulan semata. I Wayan Sutama memang sengaja menjadikan bengkelnya sebagai pusat ekonomi bagi warga sekitar, sebuah model bisnis yang meski kecil, namun memberikan manfaat luas. Perjalanan Sutama membangun Autotama dimulai dari titik nol, penuh liku kerugian, penipuan, dan pengkhianatan. Berbekal pengalaman otodidak mengutak-atik kendaraan pribadi dan keluarga, ia membuka bengkel 22 tahun lalu dengan hanya empat karyawan, sebelum akhirnya bangkit kembali dengan menyadari pentingnya keterbukaan dan kolaborasi.
Kesadaran akan kebutuhan bimbingan mendorong Sutama untuk mengirim surel kepada Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada tahun 2009. Tak disangka, pesannya berbalas dan membuka pintu bagi serangkaian pelatihan berharga. Awalnya, ia mengirimkan mekaniknya untuk mendapatkan peningkatan keahlian, sebelum kemudian ia sendiri mengikuti pelatihan manajemen bisnis, termasuk penerapan prinsip 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin) untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan nyaman bagi konsumen. "Bagaimana membuat konsumen nyaman dan diperhatikan. Itu benar-benar kami jalankan," kata Sutama saat ditemui di bengkelnya pada Kamis (4/6/2026).
Berkat dedikasi dan bimbingan tersebut, Bengkel Autotama kemudian bergabung dengan Himpunan Bengkel Binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (HBBA) untuk regional Jawa Timur-Bali, yang menghimpun setidaknya 95 bengkel binaan YDBA. Jaringan ini menjadi benteng Sutama dari potensi penipuan dan memberinya mitra kerja yang solid. "Jadi, kami tidak dibohongi lagi soal dunia perbengkelan karena sudah banyak rekan dan mitra kerja yang baik," imbuhnya.
Transformasi ini berbuah manis. Dari sebuah usaha kecil yang pernah merugi, Sutama kini sukses membangun dua cabang bengkel di Karangasem dengan konsep serupa. Omzet tahunannya melonjak signifikan, dari Rp 1,5 miliar pada tahun 2022, menjadi Rp 3,05 miliar pada tahun 2024, dan kini berhasil mencapai angka fantastis Rp 7 miliar per tahun. Keberhasilan Autotama menjadi cerminan model bisnis yang diterapkan di seluruh bengkel HBBA di Jawa Timur dan Bali, di mana kolaborasi dengan UMKM makanan dan minuman ringan lokal telah menjadi standar.
Ketua Wilayah HBBA Jawa Timur-Bali, Rachmad Fitrianto, menekankan semangat kebersamaan ini. "Kita di usaha bengkel kecil ini sudah pernah merasakan jadi pesuruh, jadi teknisi, dan kini jadi pengusaha. Kami menyadari untuk menjadi pengusaha juga diperlukan banyak tangan yang membantu. Jadi, setelah menjadi pengusaha juga harus saling membantu," ujarnya, menyoroti filosofi gotong royong yang menjadi fondasi kekuatan mereka.
Selain fokus pada pengembangan bisnis dan kolaborasi UMKM, prinsip keberlanjutan juga menjadi pilar penting yang ditanamkan YDBA kepada para pelaku UMKM binaannya. Keberlanjutan bukan hanya diukur dari kemandirian dan pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari komitmen untuk tidak merusak lingkungan sekitar. Hal ini sangat relevan bagi sektor otomotif yang rentan menghasilkan limbah berbahaya.
Eka Redana, pemilik Bengkel Redana Motor di Denpasar, menjelaskan bahwa melalui pelatihan YDBA, semua pelaku UMKM diajarkan untuk taat terhadap kelestarian lingkungan. "Kami yang di bidang otomotif ini dilatih untuk mengelola limbah, jadi bukan hanya bengkel yang bersih, tetapi juga tidak merusak lingkungan," katanya. Mereka dilatih secara spesifik untuk mengelola limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun), seperti kaleng oli dan bahan kimia lainnya.
Salah satu inovasi penting yang diajarkan adalah pembuatan oil trap untuk memisahkan oli dan air, memastikan limbah tidak mencemari sungai atau laut. Redana menambahkan bahwa YDBA mewajibkan setiap bengkel binaan memiliki sistem penanganan limbah. Oli-oli bekas dari bengkel HBBA bahkan tidak dibuang, melainkan diberikan kepada pengusaha lain yang mengolahnya, misalnya untuk pembakaran keramik. Kaleng-kaleng bekas pun dikumpulkan untuk para pengepul, sementara sisa oli bersih diolah kembali dengan peralatan canggih untuk digunakan sebagai pelumas kebutuhan bengkel atau rumah tangga. "Bahkan tidak kami jual oli bekas itu, kami beri saja, karena kami saling membutuhkan," ungkap Redana, menggambarkan budaya saling bantu yang kuat.
Redana dan seluruh pengusaha di HBBA sangat memahami bahwa usaha bengkel melibatkan bahan kimia berbahaya. Oleh karena itu, setiap langkah bisnis harus sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang dipegang teguh masyarakat Bali. "Jadi, prinsipnya, kalau punya usaha itu tidak boleh melupakan Tuhan Yang Maha Kuasa, bermanfaat untuk sesama manusia, dan lingkungan. Kami selalu berbenah agar seminimal mungkin tidak berdampak pada alam," tegasnya.
Kisah Bengkel Autotama Sutama adalah representasi nyata bagaimana masyarakat Bali mengembangkan ekonomi mereka melalui kearifan lokal. Mereka saling menjaga dan bertautan dalam berusaha, bukan sebagai pesaing melainkan sebagai mitra untuk tumbuh bersama. Tak heran jika UMKM Bali menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat dan pariwisata di pulau tersebut. Wisatawan yang berkunjung ke Bali tidak hanya membelanjakan uangnya di hotel atau transportasi, tetapi juga di restoran, toko suvenir, pasar seni, perajin, dan berbagai UMKM lokal lainnya yang tersebar luas.
Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali mencatat pada tahun 2024 terdapat 448.434 unit UMKM di Bali. Angka ini setara dengan 10,05 persen dari total penduduk Bali, jauh melampaui rasio kewirausahaan ideal sebesar 4 persen. Sektor ini juga menjadi penyerap tenaga kerja yang signifikan dan memperoleh lebih dari 51 persen penyaluran kredit perbankan di Bali pada semester I-2025, berdasarkan catatan OJK Bali, melampaui target pinjaman nasional ke UMKM yang hanya 19 persen.
Gubernur Bali Wayan Koster, dalam siaran pers Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) Ke-12 yang diselenggarakan pada 28–30 Mei 2026, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, pariwisata Bali menghasilkan sekitar Rp 176 triliun devisa, atau sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional. Uang tersebut beredar luas di berbagai sektor, termasuk UMKM. "Di balik hampir 7 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025, terdapat ratusan ribu UMKM Bali yang menjadi penggerak ekonomi lokal," ujar Koster. Ia menambahkan, perputaran uang tidak hanya dinikmati industri perhotelan, tetapi juga menghidupi para perajin, pelaku kuliner, petani, nelayan, dan hampir 450.000 UMKM yang tersebar di seluruh Pulau Dewata. Dengan demikian, model kolaborasi dan keberlanjutan yang diterapkan Bengkel Autotama tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi pemiliknya, tetapi juga secara aktif berkontribusi pada ekosistem ekonomi Bali yang lebih luas dan lestari.
