Langkah tim nasional Belanda di Piala Dunia 2026 harus terhenti secara dramatis di babak 32 besar. Berhadapan dengan Maroko di Stadion Monterrey, Meksiko, pada Selasa (30/6) siang waktu setempat, skuad Oranje gagal melewati adu penalti setelah bermain imbang 1-1 sepanjang waktu normal hingga babak perpanjangan waktu. Kekalahan 2-3 dalam drama tos-tosan ini sekaligus menahbiskan Belanda sebagai tim paling sial dalam sejarah adu penalti di ajang empat tahunan tersebut, menyamai rekor buruk yang sebelumnya dipegang oleh Spanyol.
Kekalahan menyakitkan ini dipastikan setelah tiga eksekutor Belanda, yakni Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville, gagal menjalankan tugasnya dengan sempurna. Kegagalan tersebut menjadi catatan kelam bagi perjalanan tim asuhan pelatih mereka di turnamen yang berlangsung di Amerika Utara ini. Dengan hasil tersebut, Belanda kini mencatatkan empat kekalahan dalam babak adu penalti sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Catatan statistik ini menempatkan Belanda dalam posisi yang tidak mengenakkan, yakni berbagi predikat tim dengan rekor kekalahan penalti terbanyak bersama Spanyol. La Furia Roja diketahui telah merasakan empat kali kekalahan serupa, yakni pada edisi 1986 melawan Belgia, 2002 melawan Korea Selatan, 2018 menghadapi Rusia, dan yang paling baru saat dikalahkan Maroko pada perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Bagi publik sepak bola Belanda, adu penalti seolah telah menjadi momok yang terus menghantui. Sebelum tersingkir oleh Maroko di Meksiko, tim Oranje juga mengalami nasib serupa pada edisi 2022 di Qatar, di mana mereka harus mengakui keunggulan Argentina di babak perempat final. Luka lama juga sempat terbuka saat mereka kalah melalui skema yang sama dari lawan yang sama, Argentina, pada semifinal Piala Dunia 2014. Adapun sejarah kelam adu penalti Belanda dimulai jauh sebelumnya, tepatnya pada Piala Dunia 1998, ketika mereka harus menyerah di tangan Brasil.
Fenomena ini menempatkan Belanda dan Spanyol di puncak daftar negara dengan catatan adu penalti terburuk, melampaui beberapa raksasa sepak bola dunia lainnya. Di bawah mereka, tercatat ada tim nasional Prancis, Italia, dan Inggris yang masing-masing telah menelan tiga kali kekalahan dalam adu penalti di Piala Dunia. Statistik ini menunjukkan bahwa adu penalti bukan sekadar masalah teknis atau kualitas pemain, melainkan juga faktor mentalitas dan keberuntungan yang sering kali menjadi pembeda di level tertinggi kompetisi internasional.
Padahal, Belanda sebenarnya sempat berada di atas angin dalam pertandingan tersebut. Mereka berhasil menjaga keunggulan 1-0 selama 90 menit waktu normal berkat disiplin taktik yang diterapkan di lapangan. Namun, mimpi buruk datang pada menit pertama masa injury time, saat pemain Maroko, Issa Diop, mencetak gol melalui sundulan kepala yang mengubah papan skor menjadi imbang 1-1. Gol di detik-detik krusial tersebut memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu hingga akhirnya harus ditentukan melalui titik putih.
Kapten timnas Belanda, Virgil van Dijk, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya seusai pertandingan. Ia mengakui bahwa skema permainan yang telah disusun oleh tim sebenarnya berjalan dengan cukup baik dan sesuai rencana di sebagian besar durasi laga. Namun, tekanan yang diberikan oleh Maroko pada menit-menit terakhir menjadi titik balik yang meruntuhkan pertahanan timnya. Van Dijk menegaskan bahwa meskipun ada aspek yang seharusnya bisa diperbaiki, penyesalan tersebut kini tidak lagi berarti karena langkah mereka di turnamen telah resmi terhenti.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 ini juga mencatatkan rekor lain yang kurang membanggakan bagi Belanda. Mereka kini memegang predikat sebagai tim yang paling sering tersingkir dari Piala Dunia tanpa pernah menelan kekalahan dalam durasi 90 menit maupun babak tambahan. Pola yang sama pernah dialami Belanda pada edisi 2014 dan 2022, di mana mereka tersingkir melalui drama adu penalti meski secara permainan tidak kalah dalam waktu normal. Hal ini menunjukkan adanya inkonsistensi yang kronis saat tim menghadapi situasi tekanan tinggi di fase gugur.
Kekalahan ini tentu menjadi bahan evaluasi besar bagi federasi sepak bola Belanda dalam menyongsong turnamen-turnamen internasional di masa mendatang. Mentalitas pemain dalam menghadapi eksekusi penalti yang krusial tampak menjadi celah yang harus segera dibenahi. Bagi para penggemar, hasil ini menjadi pengingat pahit bahwa dominasi di waktu normal tidak menjamin tiket menuju babak berikutnya jika efektivitas di titik putih tidak terjaga dengan baik.
Saat ini, Belanda harus pulang lebih awal dari Meksiko dengan catatan statistik yang akan terus diingat oleh para pengamat sepak bola. Sementara bagi Maroko, kemenangan ini menjadi bukti kekuatan mental mereka yang terus berkembang di kancah sepak bola dunia, sekaligus mempertegas reputasi mereka sebagai tim yang mampu memberikan kejutan besar terhadap tim-tim besar Eropa. Bagi Belanda, tantangan ke depan adalah bagaimana menghapus label sebagai tim paling sial dalam adu penalti dan membangun kembali kepercayaan diri skuad untuk menghadapi kompetisi-kompetisi besar berikutnya.











