Peserta pendidikan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) kini menghadapi aturan ketat terkait penggunaan ponsel. Selama mengikuti pelatihan di Pusdikkes TNI Angkatan Darat, mereka hanya diperbolehkan memakai gawai selama satu jam per minggu.
Komandan Satuan Pendidikan SPPI Pusdikkes TNI AD, Letnan Kolonel Korps Kesehatan Militer Said Jauhari, menjelaskan kebijakan tersebut. Pembatasan dilakukan agar peserta tetap fokus selama menjalani masa pelatihan yang padat.
Mayoritas peserta merupakan generasi Z yang terbiasa dengan gawai. Menurut Jauhari, konsentrasi belajar peserta bisa menurun drastis jika mereka terus memegang ponsel.
Awalnya, panitia sempat merencanakan larangan total penggunaan ponsel selama 30 hari masa pelatihan dasar militer. Namun, rencana itu berubah setelah dilakukan evaluasi mendalam oleh pihak penyelenggara.
Kebijakan pemberian akses satu jam seminggu merupakan instruksi langsung dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Langkah ini diambil untuk merespons kekhawatiran keluarga peserta pelatihan.
Kecemasan pihak keluarga meningkat menyusul adanya insiden meninggalnya sejumlah calon manajer koperasi. Akses terbatas ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan komunikasi antara peserta dan keluarga mereka.
Jauhari menegaskan bahwa jadwal penggunaan ponsel tidak ditentukan secara kaku. Waktunya akan disesuaikan dengan situasi serta agenda latihan yang sedang berlangsung di lapangan.
Meski demikian, panitia tetap memfasilitasi komunikasi jika terdapat kebutuhan yang sangat mendesak. Keluarga yang ingin menanyakan kabar bisa menghubungi panitia untuk mendapatkan informasi terkait kondisi peserta.
Panitia akan memberikan jawaban mengenai kesehatan peserta sebelum jadwal komunikasi mingguan tiba. Cara ini dilakukan agar pihak keluarga tetap tenang selama masa pendidikan berlangsung.
Penting dicatat bahwa pembatasan alat komunikasi ini hanya berlaku selama Latihan Pembekalan Bela Negara. Masa tersebut berlangsung selama 30 hari pelatihan dasar militer.
Setelah memasuki tahapan materi manajerial, aturan penggunaan gawai akan berubah total. Peserta nantinya dibebaskan menggunakan alat elektronik untuk mendukung akses internet dalam belajar.
Materi manajerial memang menuntut akses informasi yang lebih luas bagi para calon pengelola koperasi. Oleh karena itu, fleksibilitas penggunaan teknologi akan diberikan sepenuhnya kepada seluruh peserta.
Hingga kini, proses pendidikan terus berjalan dengan pengawasan ketat dari instruktur TNI. Upaya ini dilakukan untuk membentuk karakter manajer koperasi desa yang tangguh dan disiplin.
Diharapkan, penyesuaian aturan ini dapat menyeimbangkan kebutuhan mental peserta dan ketenangan keluarga. Fokus utama tetap pada keberhasilan program pembangunan koperasi di seluruh wilayah Indonesia.











