Pemerintah Inggris mengumumkan keputusan strategis untuk mengambil alih British Steel, sebuah langkah yang diklaim akan melindungi aset industri vital nasional. Keputusan ini menuai reaksi keras dari Tiongkok, yang mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk proteksionisme ekonomi.
Langkah nasionalisasi British Steel oleh Inggris terjadi di tengah kekhawatiran akan kelangsungan operasional perusahaan baja tersebut. Pemerintah Inggris menyatakan bahwa pengambilalihan ini merupakan upaya untuk memastikan keberlanjutan “kemampuan nasional yang vital”, sebuah pernyataan yang menegaskan signifikansi strategis British Steel bagi perekonomian Inggris.
Namun, langkah ini tidak disambut baik oleh Tiongkok. Kementerian Luar Negeri Tiongkok, melalui juru bicaranya Mao Ning, melontarkan kritik tajam. “Tiongkok dengan tegas menentang tindakan yang melanggar prinsip pasar dan aturan perdagangan bebas,” ujar Mao Ning dalam sebuah konferensi pers pada hari Selasa, 23 Mei 2023. Ia menambahkan bahwa tindakan semacam ini “akan merusak stabilitas rantai pasokan industri global.”
Beijing menilai bahwa nasionalisasi British Steel merupakan cerminan dari kebijakan proteksionisme yang semakin menguat di negara-negara Barat. Menurut Tiongkok, tindakan tersebut dapat memicu respons serupa dari negara lain dan pada akhirnya mengganggu tatanan ekonomi internasional.
Meskipun demikian, pemerintah Inggris bergeming. Keputusan untuk menasionalisasi British Steel dinilai sebagai langkah yang perlu diambil demi menjaga kepentingan nasional. Rincian lebih lanjut mengenai skema pendanaan dan rencana operasional pasca-nasionalisasi masih dalam tahap pembahasan, namun komitmen untuk menjaga British Steel tetap beroperasi sebagai aset strategis tetap menjadi prioritas utama.
