Film horor psikologis fiksi ilmiah ‘Backrooms’ secara mengejutkan memborong pendapatan fantastis di pekan perdananya di Amerika Utara. Karya perdana sutradara muda Kane Parsons ini sukses menarik perhatian publik setelah viral di berbagai platform media sosial.
Naskah garapan Will Soodik ini langsung merajai puncak tangga box office. Pencapaian ini menjadi angin segar bagi kebangkitan film horor independen di kancah perfilman global.
Pendapatan ‘Backrooms’ di pasar domestik Amerika Utara mencapai US$81,4 juta atau setara Rp1,45 triliun. Dari pasar internasional, film ini meraup US$36,5 juta, menjadikan total pendapatan globalnya US$118 juta.
Angka tersebut terbilang luar biasa mengingat biaya produksi ‘Backrooms’ hanya sekitar US$10 juta. Majalah Variety bahkan menobatkan film ini sebagai salah satu proyek paling menguntungkan di tahun 2026.
‘Backrooms’ mencetak rekor sebagai film dengan pembukaan akhir pekan terbesar sepanjang sejarah distributor A24. Film ini juga memecahkan rekor debut film horor orisinal terbesar di industri perfilman.
Selanjutnya, ‘Backrooms’ mencatatkan awal terbaik bagi sutradara pemula untuk kategori film non-waralaba. Kane Parsons pun dinobatkan sebagai sutradara termuda yang berhasil menempati peringkat teratas box office.
Kesuksesan ini membuktikan bahwa konten yang berawal dari internet mampu bersaing dengan produksi blockbuster. Kabarnya, Parsons kini tengah mempertimbangkan pengembangan cerita ‘Backrooms’ menjadi sebuah waralaba besar.
Menariknya, film ini sempat menimbulkan perbincangan hangat di kalangan netizen Indonesia. Diduga, film ini menyisipkan elemen budaya Indonesia melalui rekaman suara salam berbahasa Indonesia dari Ilyas Harus.
Rekaman legendaris tersebut merupakan bagian dari The Golden Records milik NASA yang diluncurkan pada tahun 1977. Penggunaan rekaman ini memberikan kesan mistis sekaligus akrab bagi penonton asal Indonesia.
Cerita ‘Backrooms’ berpusat pada Clark (Chiwetel Ejiofor), seorang pemilik toko furnitur. Ia menemukan pintu rahasia di bawah tokonya yang menuju labirin ruangan tanpa ujung.
Konflik memuncak ketika Clark menghilang secara misterius di dalam dimensi ruangan tersebut. Mary (Renate Reinsve) kemudian nekat menjelajahi dunia asing itu demi mencari Clark.
Film ini diadaptasi dari serial web Parsons yang terinspirasi dari fenomena creepypasta. Visualisasi ruangan-ruangan biasa yang terasa asing dan menakutkan menjadi daya tarik utama.
Selain ‘Backrooms’, film horor ‘Obsession’ karya YouTuber Curry Barker juga menunjukkan performa gemilang dengan pendapatan global US$148 juta dari modal US$1 juta.
Analis industri Jeff Bock dari Exhibitor Relations menilai kesuksesan kedua film ini didorong oleh antusiasme Generasi Z. Ada segmen pasar baru yang menantikan konten horor indie dengan pendekatan segar.
Fenomena ini diharapkan dapat memacu inovasi dalam industri perfilman. Munculnya kreator muda dari platform digital terbukti mampu memberikan persaingan ketat bagi film-film besar musim panas.
