Terbongkar Dugaan Penyelewengan Dana Umat, Pengurus Kuil Ram Mandir Ayodhya Reshuffle

Written by

in

AYODHYA – Skandal dugaan penyelewengan dana sumbangan di Kuil Ram Mandir, Ayodhya, India, memicu perubahan besar dalam jajaran pengurus. Shri Ram Janmabhoomi Teerth Kshetra Trust, badan pengelola kuil megah tersebut, menggelar rapat perdana pada Senin setelah isu pencurian donasi mencuat bulan lalu.

Awalnya, pihak pengelola membantah adanya penyimpangan. Namun, pemerintah negara bagian membentuk tim investigasi khusus yang terdiri dari tiga anggota. Tim Investigasi Khusus (SIT) ini bertugas mendalami tuduhan tersebut.

Berdasarkan laporan awal SIT, kepolisian Ayodhya mendaftarkan kasus dugaan penggelapan dana. Delapan orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka telah ditangkap dan sedang menjalani pemeriksaan intensif.

Pasca rapat Senin, Bendahara Trust Govind Dev Giri mengumumkan pengunduran diri Champat Rai dan pejabat lain, Anil Mishra. Keduanya mengajukan mundur setelah polisi mengajukan keluhan resmi pada 25 Juni lalu.

Sebagai pengganti sementara, Krishna Mohan, seorang pensiunan pejabat kehutanan, ditunjuk sebagai sekretaris jenderal interim. Mohan dikenal memiliki kaitan dengan Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), organisasi payung kelompok nasionalis Hindu yang juga terafiliasi dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa.

Giri juga menginformasikan pembentukan pos Chief Executive Officer (CEO) baru. Sebuah panel beranggotakan tiga orang akan segera merekomendasikan nama-nama kandidat untuk posisi tersebut.

Mengenai detail donasi, Giri memaparkan hingga 31 Maret 2026, Trust telah menerima 5,82 miliar rupee atau sekitar Rp 1,1 triliun dari umat. Dari jumlah tersebut, 3,19 miliar rupee atau sekitar Rp 630 miliar telah dialokasikan untuk pemeliharaan kuil.

Mohan menyatakan prioritas utamanya adalah mengidentifikasi dan menutup celah potensi penyelewengan. Ia mengakui dugaan ini telah merusak citra Trust dan menimbulkan ketidakpercayaan di masyarakat.

Tuduhan pencurian ini pertama kali diungkapkan oleh mantan penyelia akuntansi. Ia mengaku dipecat setelah melaporkan dugaan pelanggaran internal. Klaim ini memicu polemik politik, dengan partai oposisi mempertanyakan pengelolaan uang tunai, perhiasan, emas, dan perak sumbangan umat.

Beberapa petisi diajukan ke pengadilan tinggi negara bagian dan Mahkamah Agung. Permohonan tersebut meminta penyelidikan yang diawasi pengadilan oleh kepolisian federal.

Besaran pasti dana yang diduga hilang belum diketahui. Namun, seorang mantan legislator kota mengklaim lebih dari 70 juta rupee atau sekitar Rp 14 miliar telah lenyap. Champat Rai sebelumnya membantah keras tuduhan penyelewengan dana.

Dalam konferensi pers, Giri tidak merinci jumlah kerugian. Namun, ia menuntut tindakan tegas bagi pelaku. Fokus utama Trust saat ini adalah dampak terhadap sentimen umat dan kredibilitas institusi.

"Entah pencuriannya kecil atau besar, itu urusan nanti. Yang paling menyakitkan adalah atmosfer yang tercipta," ujar Giri.

Pembangunan kuil disebut sebagai momen kebahagiaan luar biasa. "Insiden pencurian dari kotak donasi saat penghitungan sangat menyakitkan dan memalukan bagi kita semua," tambahnya.

Giri menegaskan bahwa para wali kuil tidak terlibat dalam pencurian. "Pengkhianatan ini dilakukan oleh orang-orang yang dipercaya Champat Rai, yang kami anggap sebagai pribadi mulia. Justru orang-orang itulah yang mengkhianati kepercayaan," tegasnya.

Rapat Trust selanjutnya dijadwalkan pada 22 Juli. Diharapkan laporan akhir kepolisian sudah dapat diserahkan pada pertemuan tersebut.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *