Telkom Alokasikan Rp27 Triliun untuk Ekspansi Jaringan 5G hingga Data Center di 2026

Emanuel

Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mengumumkan rencana belanja modal (Capital Expenditure/Capex) yang signifikan pada tahun 2026, dengan alokasi dana sebesar Rp27 triliun hingga Rp28 triliun. Angka ini mencakup investasi strategis untuk memperluas jangkauan jaringan internet 5G, membangun infrastruktur Fiber to the Home (FTTH) untuk layanan Indihome, memperkuat tulang punggung serat optik nasional, hingga pengembangan pusat data (data center) yang kian krusial di era digital.

Direktur Utama Telkom, Dian Rachmawan, menjelaskan bahwa anggaran belanja modal tersebut akan bersumber dari 17% hingga 19% dari total pendapatan perusahaan. Kontribusi terbesar dalam pemanfaatan dana ini diproyeksikan berasal dari Telkomsel, anak usaha yang bergerak di sektor telekomunikasi seluler dan masih menjadi pilar utama pendapatan Telkom, menyumbang sekitar 70% dari total revenue.

"Jadi sekarang ini yang pertama tentu Telkomsel ya, karena Telkomsel ini kan masih merupakan kontributor terbesar, 70% dari revenue Telkomsel," ungkap Dian dalam sesi Economic Update 2026 yang digelar CNBC Indonesia. Fokus pada Telkomsel ini sangat wajar mengingat perannya yang vital dalam memenuhi kebutuhan konektivitas masyarakat, terutama dalam mendukung adopsi teknologi 5G yang terus berkembang.

Lebih lanjut, Dian merinci bahwa sebagian besar dana belanja modal juga akan diarahkan untuk pengembangan infrastruktur ritel, khususnya layanan Fiber to the Home (FTTH) yang dikelola oleh Indihome. Pembangunan jaringan serat optik yang lebih merata dan terjangkau menjadi prioritas agar seluruh wilayah di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dapat menikmati kualitas koneksi internet yang optimal.

"Selain itu lanjutnya, dana tersebut juga akan digunakan perusahaan untuk membangun Fiber to the Home (FTTH) milik Indihome. Belanja modal juga diperuntukkan memperkuat backbone fiber optic Telkom. Sehingga semua pulau itu bisa dijangkau, semua kota itu juga bisa dijangkau oleh jaringan fiber optic tersebut," papar Dian. Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mempercepat transformasi digital dan pemerataan akses internet berkualitas di seluruh nusantara.

Tren pertumbuhan pesat di sektor teknologi informasi dan komunikasi juga mendorong Telkom untuk berinvestasi besar pada infrastruktur data center. Kebutuhan akan pusat data diperkirakan akan terus melonjak, didorong oleh perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan berbagai aplikasi berbasis cloud. Data center menjadi fondasi penting bagi inovasi digital, mulai dari penyimpanan data, pemrosesan informasi, hingga penyediaan layanan komputasi awan.

"Terakhir belanja modal digunakan untuk kebutuhan data center. Infrastruktur ini tengah mengalami pertumbuhan di tengah kemajuan internet. Karena sekarang ini kondisi data center sedang booming ya, karena AI, perkembangan AI itu membuat kebutuhan terhadap data center itu luar biasa besar. Sehingga pertumbuhan data center ini juga memerlukan investasi yang lumayan tinggi," jelas Dian. Investasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital global dan mendukung pertumbuhan bisnis digital di dalam negeri.

Data kinerja keuangan Telkom pada kuartal pertama 2026 turut memberikan gambaran tentang fondasi perusahaan yang kuat untuk melakukan investasi ekspansif tersebut. Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun, mengalami pertumbuhan 1,5% secara tahunan (year-on-year). Angka EBITDA tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan margin EBITDA yang sehat sebesar 48,3%.

Sementara itu, laba bersih yang dibukukan mencapai Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7%. Laba bersih yang dinormalisasi tercatat sebesar Rp5,1 triliun dengan margin 13,8%. Meskipun terdapat kontraksi pada laba bersih yang dipengaruhi oleh dampak lanjutan percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi, Dian menekankan bahwa tekanan tersebut bersifat transisional dan non-cash, sementara kinerja operasional fundamental tetap terjaga.

Arus kas operasional perusahaan juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 3,1% secara tahunan, mencapai Rp17,3 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh implementasi program efisiensi TOTEX (Total Expenditure) dan disiplin penagihan yang semakin baik. Kinerja finansial yang solid ini memberikan ruang gerak yang cukup bagi Telkom untuk merealisasikan agenda investasi strategisnya dalam memperkuat infrastruktur telekomunikasi dan digital nasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All