Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) telah memberikan kepastian bahwa alur utama Sungai Barito di Kalimantan Selatan tetap aman dan dapat dilalui oleh kapal-kapal. Keputusan ini didasarkan pada hasil pemantauan terkini yang menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan debit air akibat musim kemarau, kondisi sungai masih memungkinkan untuk aktivitas pelayaran.
“Kami terus memantau kondisi Sungai Barito, dan berdasarkan data terakhir, alur utamanya masih memadai untuk dilalui kapal. Penurunan debit air memang terjadi, namun belum sampai pada titik yang membahayakan pelayaran,” ujar Direktur Jenderal SDA Kementerian PUPR, Jarot Wibowo, dalam keterangan resminya pada hari Selasa, 11 Juni 2024.
Menurut Jarot, pemantauan rutin dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak negatif dari musim kemarau yang berkepanjangan. Data menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah hulu Sungai Barito mengalami penurunan signifikan sejak beberapa bulan terakhir. Hal ini secara alami berimbas pada berkurangnya volume air yang mengalir ke hilir, termasuk di alur pelayaran utama.
Meski demikian, Jarot menekankan bahwa tim teknis di lapangan terus melakukan evaluasi. “Kami memiliki tim yang siaga di lapangan untuk terus memantau ketinggian air dan lebar alur. Jika ada indikasi penurunan yang signifikan dan berpotensi mengganggu pelayaran, kami akan segera mengambil langkah mitigasi yang diperlukan,” tambahnya.
Langkah mitigasi yang mungkin diambil bisa berupa pengerukan alur sungai di beberapa titik kritis atau pengaturan pola operasi pintu air pada bendungan yang terhubung dengan sistem Sungai Barito, jika diperlukan. Namun, saat ini, kondisi tersebut belum mendesak.
Kementerian PUPR mengimbau para pengguna jasa pelayaran untuk tetap memperhatikan informasi keselamatan pelayaran yang dikeluarkan oleh otoritas maritim setempat. Informasi ini mencakup ketinggian air, kondisi alur, serta prakiraan cuaca yang relevan. Kepastian ini diharapkan dapat menjaga kelancaran logistik dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada Sungai Barito sebagai salah satu jalur transportasi air vital di Kalimantan Selatan.
