Orang dengan ciri kepribadian narsistik mungkin dapat dikenali dari bentuk alis mereka. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para akademisi di University of Toronto mengindikasikan adanya korelasi antara ‘alis yang khas’ dengan kecenderungan seseorang untuk menunjukkan sifat narsistik.
Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami indikator perilaku narsistik yang sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan aspek psikologis dan sosial. Para peneliti mengamati sejumlah karakteristik fisik yang mungkin secara tidak langsung mencerminkan pola pikir atau pandangan diri seseorang.
Menurut penelitian yang dipublikasikan pada tanggal 17 Mei 2023, bentuk alis yang paling sering dikaitkan dengan narsisme adalah alis yang tebal dan lurus, atau yang dikenal sebagai ‘monobrow’ atau alis menyatu. Bentuk alis ini, menurut studi tersebut, cenderung lebih sering ditemukan pada individu yang menunjukkan tingkat narsisme yang lebih tinggi.
Penelitian ini melibatkan partisipan yang diminta untuk menilai tingkat narsisme mereka sendiri dan juga dinilai oleh orang lain. Selain itu, para peneliti juga menganalisis foto-foto wajah partisipan untuk mengidentifikasi karakteristik alis. Dr. Cara Palmer, salah satu peneliti utama dalam studi ini, menjelaskan bahwa alis yang tebal dan lurus dapat diasosiasikan dengan rasa percaya diri yang berlebihan dan kebutuhan akan perhatian, yang merupakan ciri khas dari narsisme.
Dr. Palmer menambahkan, “Kami menemukan bahwa alis yang tebal dan lurus secara signifikan lebih mungkin muncul pada individu yang menunjukkan tingkat narsisme yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa ciri fisik tertentu dapat menjadi penanda yang menarik untuk perilaku narsistik.” Studi ini menyoroti bagaimana fitur wajah, seperti bentuk alis, dapat memberikan petunjuk tentang kepribadian seseorang.
Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa temuan ini bersifat korelasional dan bukan kausalitas. Artinya, memiliki alis yang tebal dan lurus tidak secara otomatis menjadikan seseorang narsistik, begitu pula sebaliknya. Penelitian ini lebih lanjut menggarisbawahi pentingnya memahami berbagai faktor yang dapat berkontribusi pada ekspresi perilaku narsistik, termasuk indikator fisik yang mungkin selama ini terabaikan.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara fitur wajah lain dan ciri kepribadian narsistik. Namun, studi dari University of Toronto ini setidaknya memberikan wawasan awal yang menarik mengenai potensi adanya kaitan antara bentuk alis dan kecenderungan narsistik pada individu.
