Pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, menegaskan bahwa timnya tidak akan menerapkan strategi penjagaan ketat (man-marking) terhadap Lionel Messi dalam laga final Piala Dunia mendatang. Keputusan ini diambil meskipun kapten Argentina tersebut telah menunjukkan performa gemilang dengan mencetak delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen.
Keputusan De la Fuente ini cukup menarik, mengingat pengalamannya di masa lalu justru menyarankan hal sebaliknya. Ia menceritakan pertemuan pertamanya dengan Messi 22 tahun lalu, saat sang bintang Argentina baru berusia 16 tahun dan masih memperkuat akademi Barcelona.
Saat itu, De la Fuente menjabat sebagai pelatih tim muda Sevilla. Pertemuan tak terduga terjadi pada Mei 2004 dalam babak 16 besar Piala Remaja. “Saya melepas penjagaan ketatnya, dan Messi mencetak empat gol,” ungkap De la Fuente mengenang momen tersebut. Pengalaman pahit itu seharusnya menjadi pelajaran berharga mengenai ancaman yang bisa ditimbulkan Messi jika tidak dijaga dengan ketat.
Namun, De la Fuente tampaknya memiliki keyakinan lain pada kemampuan timnya untuk meredam Messi tanpa harus mengutus satu pemain secara khusus untuk mengawasinya. Pendekatan ini berpotensi menjadi strategi kunci Spanyol untuk meraih kemenangan di final yang akan digelar di New Jersey.
