Di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan dengan suhu menyentuh 39°C, Presiden Lee Jae-myung telah memerintahkan penanganan maksimal untuk mengatasi krisis ini. Fenomena cuaca panas yang kian intens ini mendorong pemerintah untuk meninjau kembali dan mengimplementasikan kembali metode-metode tradisional yang pernah digunakan masyarakat Korea Selatan untuk bertahan dari suhu tinggi, terutama di era sebelum teknologi pendingin ruangan (AC) menjamur.
Salah satu solusi yang kini kembali dilirik adalah pemanfaatan ‘ Ondol’, sistem pemanas lantai tradisional Korea yang ternyata memiliki fungsi ganda sebagai pendingin alami. Sistem ini bekerja dengan mengalirkan air dingin melalui pipa-pipa yang tertanam di bawah lantai. Saat udara panas masuk ke dalam ruangan, panas tersebut diserap oleh lantai yang dingin, sehingga suhu ruangan menjadi lebih sejuk. Metode ini terbukti efektif dalam menjaga suhu ruangan tetap nyaman tanpa konsumsi energi listrik yang besar.
Selain Ondol, masyarakat Korea Selatan tempo dulu juga mengandalkan ‘Hanok’, rumah tradisional Korea yang dirancang dengan prinsip-prinsip arsitektur pasif. Dinding Hanok terbuat dari material alami seperti tanah liat dan kayu, yang memiliki kemampuan isolasi termal yang baik. Jendela dan pintu Hanok dirancang untuk memaksimalkan aliran udara alami, menciptakan sirkulasi silang yang membantu mendinginkan ruangan. Desain atap yang lebar juga berfungsi melindungi dinding dari paparan sinar matahari langsung, mengurangi penyerapan panas.
Presiden Lee Jae-myung menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem. “Kita harus belajar dari kearifan nenek moyang kita dalam beradaptasi dengan alam. Strategi-strategi lama ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga solusi praktis yang relevan di masa kini untuk menghadapi suhu yang semakin meningkat,” ujar Presiden Lee dalam salah satu pernyataannya baru-baru ini. Beliau juga menginstruksikan agar penelitian lebih lanjut dilakukan untuk mengintegrasikan teknologi modern dengan metode-metode tradisional ini guna menciptakan solusi hunian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pemerintah Korea Selatan juga berencana untuk menggalakkan kembali penggunaan ‘bangjja’ atau peralatan makan perunggu, yang dipercaya memiliki sifat antimikroba dan mampu menjaga kesegaran makanan lebih lama. Meskipun tidak secara langsung menurunkan suhu ruangan, penggunaan bangjja dapat membantu mencegah makanan cepat basi di tengah cuaca panas, mengurangi risiko masalah kesehatan terkait makanan.
