Jakarta – Fenomena konten parenting yang kian menjamur di media sosial, mulai dari tampilan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang super estetik, perlengkapan bayi mewah, hingga pamer pencapaian tumbuh kembang anak, kini menjadi sorotan tajam. Influencer sekaligus ibu dua anak, Ir. Nova Aryani, S.T., M.T., IPM. atau yang dikenal dengan Nova Nayla, menyuarakan keresahannya terkait budaya kompetisi sosial dan "mom shaming" yang semakin marak di dunia maya. Ia mengingatkan para orang tua untuk tidak menjadikan momen berharga mengawal tumbuh kembang buah hati sebagai ajang perlombaan, melainkan sebagai kesempatan untuk menikmati kebersamaan dan menurunkan ego.
Nova Nayla bukanlah nama asing bagi para pengguna media sosial. Akun Instagram terverifikasinya kini diikuti oleh lebih dari 100 ribu orang, sementara di TikTok, ia memiliki 230 ribu pengikut setia. Sebagai seorang ibu yang aktif membagikan wawasan, Nova kerap berinteraksi dengan audiensnya mengenai berbagai isu parenting, termasuk mom shaming dan standar MPASI yang kerap memicu perdebatan. Perspektifnya yang lugas dan berani dalam mengkritisi tren-tren di media sosial mendapatkan respons positif dari banyak ibu yang merasakan tekanan serupa.
Menurut Nova Nayla, tantangan terbesar yang dihadapi orang tua dalam fase MPASI saat ini bukan sekadar memastikan nutrisi anak terpenuhi, melainkan juga menghadapi tekanan sosial yang kian menguat berkat eksposur digital. Ia mengamati banyak orang tua, terutama ibu baru, tanpa sadar terjebak dalam pusaran perlombaan untuk menampilkan citra ibu yang paling sempurna. Hal ini sering kali berujung pada perasaan tidak aman dan cemas jika realitas mereka tidak sesuai dengan apa yang terlihat di layar gawai.
"Tidak sedikit ibu yang merasa dihakimi karena menu MPASI yang dibuat tak semewah orang lain, tidak menggunakan bahan premium, atau tidak terlihat sempurna seperti yang ditampilkan di medsos," ungkap Nova dalam sebuah wawancara daring pada 26 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa kondisi ini diperparah dengan munculnya berbagai konten parenting yang, secara tidak langsung, membangun standar pengasuhan yang jauh dari kata realistis. Konten-konten tersebut sering kali menampilkan sisi glamor dan sempurna dari pengasuhan anak, mengabaikan perjuangan dan tantangan nyata yang dialami mayoritas keluarga.
Berbagai konten di media sosial seringkali menggambarkan menu MPASI yang disajikan layaknya hidangan restoran bintang lima, perlengkapan makan bayi dengan harga fantastis, hingga unggahan yang menampilkan anak selalu lahap makan dan menunjukkan perkembangan yang sempurna tanpa hambatan. Gambaran ideal ini, sayangnya, sangat berbeda dengan realitas yang dihadapi oleh sebagian besar keluarga. Keterbatasan waktu, kondisi ekonomi, dan kemampuan memasak yang berbeda-beda seringkali membuat ibu merasa terbebani dan tidak mampu mencapai standar tersebut.
Nova Nayla menekankan bahwa kondisi ini dapat memicu perasaan gagal yang mendalam pada para ibu. "Banyak ibu akhirnya merasa gagal hanya karena tidak bisa menyajikan MPASI seperti yang tampak di medsos. Padahal, setiap keluarga punya kondisi ekonomi, waktu, dan kemampuan yang berbeda," jelasnya. Perasaan gagal ini bukan hanya merugikan ibu secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan anak, karena fokus ibu bergeser dari kebutuhan anak menjadi validasi dari lingkungan sosial media.
Budaya pamer standar pengasuhan yang berlebihan ini, menurut Nova, dapat menciptakan tekanan psikologis yang signifikan bagi orang tua, khususnya ibu baru yang masih dalam tahap adaptasi dengan peran barunya. Ali-alih mendapatkan edukasi dan dukungan yang dibutuhkan, banyak ibu justru "pulang" dari berselancar di media sosial dengan perasaan bersalah, minder, bahkan depresi. Mereka membandingkan diri dengan gambaran ideal yang seringkali palsu atau hanya sebagian kecil dari kebenaran.
Nova Nayla mengingatkan bahwa yang terpenting dalam pengasuhan anak adalah terpenuhinya kebutuhan dasar dan gizi anak, serta terjaganya kesehatan mental ibu. "Sering kali para ibu merasa harus selalu sempurna. Harus membuat menu paling lengkap, estetik, atau mengikuti semua tren yang viral. Padahal yang paling penting adalah kebutuhan anak terpenuhi dan ibu tetap sehat secara mental," pungkasnya. Pernyataan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh orang tua untuk lebih bijak dalam menyaring informasi di media sosial, fokus pada kebutuhan nyata keluarga, dan tidak terjebak dalam pusaran ekspektasi yang tidak realistis demi menciptakan lingkungan tumbuh kembang anak yang sehat dan bahagia.











