Arab Saudi menghadapi ancaman krisis pasokan energi setelah serangan drone yang diduga berasal dari Irak menghancurkan salah satu pipa minyak krusial milik negara tersebut. Insiden yang terjadi pada hari Senin, 13 Mei 2024, ini dilaporkan menyebabkan penutupan sementara pada fasilitas yang terdampak, menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak global.
Sumber resmi dari Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa dua drone tanpa awak berhasil menargetkan dan menghancurkan sebuah pipa minyak di wilayah Dhahran, yang merupakan jantung operasional minyak negara itu. Serangan ini secara langsung mengganggu aliran minyak dari sumur-sumur minyak timur ke pelabuhan Laut Merah. Meskipun kerusakan telah dilaporkan, belum ada rincian pasti mengenai skala kerugian atau perkiraan waktu pemulihan operasional.
“Serangan ini merupakan tindakan sabotase yang menargetkan aset vital energi global,” ujar seorang pejabat Kementerian Energi Arab Saudi yang enggan disebutkan namanya, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa, 14 Mei 2024. Beliau menambahkan, “Kami sedang melakukan investigasi mendalam untuk menentukan pelaku dan motif di balik serangan ini.”
Pihak berwenang Arab Saudi segera mengambil langkah-langkah darurat untuk meminimalkan dampak serangan. Tim teknis telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan perbaikan darurat pada pipa yang rusak. Namun, potensi gangguan pasokan ini telah memicu kekhawatiran di pasar internasional. Analis energi memprediksi bahwa insiden ini dapat memberikan tekanan naik pada harga minyak mentah, terutama jika perbaikan memakan waktu lebih lama dari perkiraan atau jika ada indikasi serangan serupa di masa depan.
Peristiwa ini menambah daftar panjang ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kerap kali berimbas pada stabilitas pasokan energi dunia. Ketergantungan global pada minyak mentah yang diproduksi oleh Arab Saudi menjadikan setiap gangguan pada infrastruktur energinya sebagai berita yang signifikan dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas.
